Pernah Jadi Syiar Sunan Kalijaga, Apa Kabar Bisnis Rebana di Demak?

Angga Laraspati - detikFinance
Kamis, 18 Mar 2021 11:48 WIB
rebana
Foto: Pradita Utama
Demak -

Alat musik rebana merupakan salah satu media yang digunakan untuk menyiarkan agama Islam lewat seni musik. Suara tabuhan rebana juga sering diperdengungkan dalam hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad SAW.

Rebana sudah dikenal sejak lama di Pulau Jawa walau alat musik ini datang dari perpaduan Arab dan juga India. Rebana telah dijadikan media syiar agama Islam oleh Sunan Kalijaga yang terkenal berdakwah melalui pagelaran seni dan budaya.

Eksistensi rebana ini terus dipertahankan melalui tangan pelaku UMKM di Demak. Mereka meneruskan warisan Sunan Kalijaga dengan memproduksi alat-alat musik mulai dari bedug besar, kecil, rebana.

Kepala SDM Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Demak Dwi Marfiana mengatakan seiring berkembangnya zaman banyak pendakwah islam yang tadinya hanya memakai wayang, kini dikombinasikan dengan rebana.

"Seiring berkembangnya zaman, bisa menjadi selingan pendakwah Islam yang tadinya pakai rebana, wayang, sekarang dikolaborasikan untuk membawa dakwah syiar yang baik, karena untuk mendidik orang itu kan tidak semudah membalikkan telapak tangan," ujar Marfiana kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

rebanarebana Foto: Pradita Utama

"Sehingga dengan media ini dan sarana ini bisa saja mengajak lebih banyak orang lebih mengenal Islam lebih jauh, jadi ya orang-orang kreatif itu sebetulnya tidak mudah," ungkapnya

Dari beberapa perajin rebana yang ada di Demak, salah satunya adalah Muhammad Wajihan Nur (22) yang keluarganya sudah memulai usaha di sekitar tahun 2000. Ia mengatakan ada beberapa orang yang memang menjadikan kerajinan rebana ini sebagai mata pencaharian utama.

Jihan adalah salah satu perajin yang menjadikan kerajinan rebana sebagai mata pencaharian utama. Ia pun mengatakan usaha yang dimiliki ayahnya ini mampu menjadi penopang ekonomi keluarga.

"Untuk bisnis ini bisa dibilang sangat menjanjikan ya. Alhamdulillah dapat menopang ekonomi keluarga saya. Sebulan kita bisa distribusi kurang lebih 60 buah. Untuk distribusi kita sudah seluruh Indonesia, ke sebagian wilayah Aceh, Kalimantan, dan sering juga kita kirim ke Merauke." ucap Jihan.

Tak hanya lokal, Jihan juga pernah menjual rebana yang ia produksi hingga pasar internasional. Rebana yang dibuatnya telah sampai ke Timur Tengah. Ia pun sering mengirimkan beberapa rebana ke negara tetangga yaitu Malaysia, dan Brunei Darussalam.

"Alhamdulillah usaha ini pernah mengirimkan beberapa rebana ke Timur Tengah tapi itu lewat orang gitu. Baru-baru ini juga kita kirim ke daerah Selangor, Malaysia dan kerap juga mengirimkan beberapa ke Brunei Darussalam," ungkap Jihan.

Tak hanya Jihan, Ahmad Afif (31) juga menjadikan kerajinan rebana sebagai mata pencaharian utamanya. Ia juga bisa dikatakan sudah sukses dalam menjalankan bisnis turun temurun ini.

"Di tahun 2017 itu kita pernah dapat pesanan paling banyak ke dinas pendidikan Ngawi sekitar sampai 4 truk besar, sekitar 800 pcs untuk disuplai ke sekolah-sekolah. Itu selesai proses pengerjaan dalam 2 bulan," ucap Afif.

Tak hanya lokal, Afif juga pernah menjual rebana yang ia produksi hingga pasar internasional. Rebana yang dibuatnya telah sampai ke Korea Selatan dan Hong Kong. Ia pun sering mengirimkan beberapa rebana ke negara tetangga yaitu Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

"Alhamdulillah kalau di sini sudah nasional bahkan sampai Kalimantan. Internasional paling jauh ke Hongkong dan Korea Selatan untuk teman-teman TKI. Lalu kita juga sering kirim ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam," ungkap Afif.

Sementara itu, untuk membangun ekosistem UMKM yang ada di Demak, berbagai pihak juga turut membantu dalam membangkitkan UMKM, salah satunya rebana. Dari berbagai pihak tersebut, Bank BRI menjadi salah satu pihak yang membantu para pelaku UMKM agar bisa naik kelas.

Pemimpin BRI Cabang Demak Muhammad Nizar mengatakan peran BRI untuk memajukan UMKM di Demak dilakukan melalui 2 pendekatan yang pertama ada Go Higher atau sifat pendekatan secara klastering dengan sifatnya kemitraan.

"Setelah dipetakan, kita menginginkan mereka naik kelas yang semula main di local kemudian main di ekspor dan Go global di kemudian hari. Selain itu Go Online, yaitu kita kenalkan dengan Market Place, sehingga penjualannya tidak selalu offline namun bisa online dan bisa lebih tersebar ke seluruh penjuru negeri," ucap Nizar.

Selain itu, Nizar menambahkan BRI juga ingin UMKM di Demak dapat terinklusi secara keuangan. Menurut data yang dimiliki, 35.000 UMKM memiliki potensi yang bisa lebih besar dari sebelumnya.

"Kita ingin mereka menikmati pembiayaan jadi selain dari transaction, pengembangan Go Higher dan Go Online, dan juga dari sisi pembiayaan juga yaitu kita mengembangkan mereka melalui KUR Mikro, KUR Super Mikro dan KUR RETAIL," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.



Simak Video "Bunga Krisan Sidomulyo Yang Tetap Mekar di Era Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)