Biaya Kesehatan Makin Mahal, Menkes: Akan Sangat Berat Bagi Negara

Hendra Kusuma - detikFinance
Jumat, 19 Mar 2021 15:25 WIB
Menkes Budi Gunadi Sadikin
Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan beban negara dalam menanggung biaya kesehatan akan semakin besar lantaran pertumbuhan biaya kesehatan di tanah air yang terus membengkak.

Budi mengatakan, biaya kesehatan saat ini mengalami peningkatan yang signifikan dalam 20 tahun terakhir. Bahkan peningkatannya melebihi dari produk domestik bruto (PDB) yang dihasilkan oleh suatu negara.

"Ini sangat tidak sustainable. Suatu saat akan sangat berat bagi negara menanggung beban ini. Apalagi selanjutnya kita lihat industri ini bukan industri yang efektif atau produktif," kata Budi Gunadi dalam acara Rakor BLU 2021 secara virtual, Jumat (19/3/2021).

Budi menjelaskan biaya yang dikeluarkan untuk kesehatan belum sebanding dengan harapan hidup seseorang. Dia mencontohkan seperti di Amerika Serikat (AS) yang biaya kesehatannya US$ 12.000 per kapita dengan harapan hidup rata-rata 79 tahun. Sementara di Jepang hanya US$ 5.000 per kapita tapi harapan hidupnya rata-rata 84 tahun atau lebih panjang.

"Jadi kadang kita bertanya, apakah uang yang dikeluarkan baik individu atau negara, ini bukan untuk menambah dia sehat tapi untuk bayar obat, rumah sakit dan dokter. Ini harus kita lihat produktivitasnya," ujarnya.

"Apalagi kalau kita bandingkan dengan Kuba yang mungkin spending per kapita per tahun cuma 1.000 dolar. Tapi life acceptance sama kayak AS. Ada apa ini?" tambahnya.

Oleh karena itu, Budi mengaku pandemi COVID-19 ini akan dijadikan sebagai momentum reformasi sektor kesehatan secara fundamental.

"Kalau kita lihat memang karena banyak yang kita spend di bidang kuratif bukan preventif. Contoh COVID, preventif makan vitamin C vitamin D dan masker, paling sebulan nggak sampai Rp 1 juta. Nah kalau kita kuratif, diurus udah sakit harus beli remdesivir, apemra, itu bisa ratusan juta biayanya. Jadi memang kita lebih banyak spending jadi lebih mahal," ungkapnya.

(hek/eds)