Makin Laris! Koleksi Kartu Pokémon Laku Hingga Rp 720 Juta

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 23 Mar 2021 11:42 WIB
SAN FRANCISCO, CA - AUGUST 19:  A contestant looks at cards as he competes during the 2016 Pokemon World Championships on August 19, 2016 in San Francisco, California. Over 1,600 contestants from more than 30 countries are competing in tournaments of the Pokemon video game, Pokken and Trading Card Game events during the 2016 Pokemon World Championships. $500,000 in scholarships and prizes will be awarded to winners.  (Photo by Justin Sullivan/Getty Images)
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Justin Sullivan
Jakarta -

Bagi generasi milenial kelahiran tahun 90-an hingga 2000-an kegilaan akan kartun Pokémon menjadi masa penting selama semasa muda mereka. Namun siapa sangka berawal dari penggemar, mengoleksi kartu, hingga akhirnya bisa membuahkan pundi-pundi uang.

Seorang YouTuber Pokémon di Los Angeles bernama Dani Sanchez kini merasakan obsesinya terhadap koleksi Pokémon selama 15 tahun telah menguntungkan dirinya. Dia mengungkap satu kota koleksi kartu Pokémon bisa seharga hingga US$ 50.000 setara Rp 720 juta (kurs Rp 14.400).

"Kartu vintage telah meroket nilainya. Sekotak kartu Pokémon tersegel dari awal 2000-an atau akhir 90-an awalnya dijual dengan harga sekitar US$ 100. Kini untuk kotak yang sama bisa berharga US$ 20.000, US$ 30.000 atau bahkan US$ 50.000 sekarang. Ini gila," kata Dani, dikutip dari BBC, Selasa (23/3/2021)

Kartu bergambar monster anime Jepang ini sebelumnya diperdagangkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia. Lalu kartunnya merambat menjadi sebuah video game hingga akhirnya muncul di film, di box makanan Happy Meals dan muncul di box cereal.

Kartu Pokémon memang telah mengalami peningkatan minat yang belum pernah terjadi sebelumnya selama 18 bulan terakhir. Seperti halnya hobi tinggal di rumah lainnya, permintaan kartu Pokémon meningkat saat pandemi COVID-19 menyerang.

Namun, Dani mengatakan pandemi bukanlah satu-satunya alasan mengapa barang koleksi ini kembali lagi. Menurutnya faktor pendorong dari kalangan selebriti yang meningkat juga menjadi salah satu penyebab larisnya koleksi kartu Pokémon saat ini.

"Selebriti telah terlibat di dalamnya. Logika membeli kartu Pokémon termasuk Logan Paul masuk, Shawn Mendes, Steve Aoki. Tapi ada sisi lain: sudut finansial. Ada sekelompok orang di luar sana yang mendorong pasar masuk harapannya bisa untung nanti, "ucapnya.

Situs lelang eBay mengatakan penjualan kartu Pokémon di AS melonjak 574% antara 2019 dan 2020. Tidak hanya kartu Pokémon, kartu yang menggambarkan pemain-pemain sepak bola juga tumbuh sebesar 1.586%.

Di semua jenis kartu, penjualan di Eropa meningkat lebih dari dua kali lipat, dan di Inggris meningkat tiga kali lipat. Kartu paling berharga dijual seharga ratusan ribu pound. Tetapi kartu fisik memiliki persaingan baru untuk hati para kolektor.

Pesaing itu NFT, atau token yang tidak dapat dipertukarkan, adalah token digital. Kini token digital itu tengah populer untuk jual beli klip video, gambar atau gif. Kepemilikan NFT dapat dilacak dan diverifikasi. Dalam dunia dunia olahraga, NFT mungkin menjadi sorotan.

Misalnya, di AS, highlight pemain basket dibuat menjadi NFT yang dikenal sebagai Moments oleh NBA Top Shot, perusahaan patungan antara National Basketball Association, NBA Players Association dan Dapper Labs.

Pendiri Front Page Jesse Schwarz, mencetak rekor Top Shot ketika dia menghabiskan US$ 208.000 untuk dunk LeBron James. Namun, Dr William Quinn, Dosen Keuangan di Queen's University Belfast mengatakan token NFT tidak boleh diperlakukan sebagai investasi.

NBA Top Shot bukan satu-satunya perusahaan yang memanfaatkan NFT olahraga. Di Prancis, perusahaan Sorare mendigitalkan kartu sepak bola dan telah bermitra dengan lebih dari 125 klub termasuk Liverpool, Paris Saint-Germain, dan Bayern Munich.

Kartu Cristiano Ronaldo baru-baru ini terjual lebih dari US$ 99.000, meskipun sebagian besar harganya jauh lebih murah. Di luar nilainya sebagai aset, kartu-kartu ini dapat digunakan sebagai bagian dari permainan. Sorare telah mengembangkan liga sepak bola fantasi, di mana pemiliknya bersaing memperebutkan hadiah.

Dalam kurun waktu satu tahun, penjualan barang koleksi Sorare telah meningkat dari US$ 50.000 sebulan menjadi sekitar US$ 6,5 juta. Kepala Sorare, Nicolas Julia, mengatakan saat ini NFT tengah di atas langit, namun bukan berarti kartu fisik akan mati sepenuhnya.

"Mereka akan hidup berdampingan. Beberapa orang menghargai memiliki sesuatu yang nyata. Tetapi pada saat yang sama, ada banyak permintaan untuk memiliki sesuatu yang digital, langka dan juga aman," kata Nicolas.

(eds/eds)