3 Fakta Produk Halal dari Brasil Ungguli RI

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 24 Mar 2021 21:00 WIB
MUS Halal Convenience Store hadir menjadi alternatif bagi warga Depok untuk berbelanja produk halal kebutuhan sehari-hari dengan konsep kenyamanan.
Foto: dok. MUS
Jakarta -

Indonesia saat ini sedang gencar mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah. Pasalnya dengan jumlah mayoritas penduduk yang beragama muslim, Indonesia saat ini masih menjadi pasar produk halal.

Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin mengungkapkan Indonesia memiliki potensi besar untuk pasar produk halal dan ekonomi syariah. Namun masih kalah dengan negara lain seperti Brasil dan Australia dari produk halal. Begini fakta-faktanya:

1. Cuma Jadi Konsumen

Ma'ruf Amin mengungkapkan potensi ekonomi syariah ini sangat besar dengan 78% potensi masyarakat beragama muslim.

"Potensi kita besar dengan bangsa mayoritas muslim 78%, ekonominya besar tapi kita baru jadi konsumen halal di dunia. Produsen dari negara non muslim seperti Brasil, Australia dan lainnya karena itu potensinya besar," kata dia dalam diskusi online, Rabu (24/3/2021).

2. Bentuk KNEKS

Karena itu pemerintah membentuk Komite Nasional Ekonomi Keuangan Syariah (KNEKS) yang fokus pada pengembangan industri produk halal, pengembangan industri keuangan, pengembangan dana sosial masyarakat islam dan pengembangan usaha bisnis syariah.

Di sektor keuangan syariah memang membutuhkan usaha ekstra karena itu dilakukan penggabungan tiga bank syariah yang merupakan anak usaha bank BUMN. Saat ini menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI) yang diharapkan bisa melayani transaksi domestik dan global.

Bank juga bisa melayani transaksi ritel dan kecil seperti usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) hingga transaksi korporasi. Kemudian pemerintah juga mengembangkan bank wakaf mikro BMT, koperasi syariah.

3. Negara Produsen Produk Halal

Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy(SGIE) 2020/21 yang mencakup kondisi ekonomi halal 2019, 5 negara eksportir produk halal terbesar adalah Amerika Serikat (AS), India, Brasil, Prancis, dan Rusia.

"Sekitar US$ 255 miliar (Rp 3.615 triliun) transaksi perdagangan di dunia berasal dari produk halal, yang 5 negara eksportir terbesarnya adalah negara yang bukan berpenduduk mayoritas muslim," ungkap CEO and Managing Director DinarStandard Rafi-uddin Shikoh dalam virtual event Reimagine: Halal in Asia 2020 yang bertema Asia's Golden Age: 2021 and Beyond for Halal Ecosystem.

(kil/fdl)