Mantan Dirut Bulog Sebut RI Tahun Ini Tak Perlu Impor Beras, Ini Alasannya

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 29 Mar 2021 09:40 WIB
Rencana pemerintah mengimpor 1 juta ton beras terus menjadi polemik. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi ngotot impor sementara Dirut Perum Bulog Budi Waseso menolak.
Foto: Rengga Sencaya
Jakarta -

Sebab, ia optimistis produksi beras dalam negeri tahun ini akan mengalami surplus sehingga bisa mencukupi kebutuhan masyarakat selama setahun. Surplus ini bahkan sudah dirasakan sejak Februari 2021 lalu.

"Berdasarkan laporan dari teman-teman di daerah, sekarang ini sejak lebih dari sebulan yang lalu, sudah mulai panen dan bahkan lebih dari sebulan yang lalu pun harga mulai jatuh, dan itu yang sudah saya sampaikan ke Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, Ketua Komisi 4, situasi di lapangan sudah mulai panen, kemudian harga jatuh, artinya apa, itu sejalan dengan apa yang diprediksi oleh BPS, angka yang dikeluarkan oleh BPS, jadi mulai Februari itu sudah surplus. Surplusnya kan 1 juta ton itu," ujar Sutarto dalam program Blak-blakan detikcom, Minggu (28/3/2021).

Alasannya karena beberapa daerah terutama yang berada di Pulau Jawa kini sudah memasuki periode masa panen. Pada gilirannya masa panen daerah-daerah di luar Pulau Jawa masa pun bakal menyusul. Berdasarkan data produksi yang ia dan Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) himpun dari daerah-daerah yang sudah panen raya, total stok gabah di penggilingan di daerah-daerah tersebut kini sudah mencapai 1,9 juta ton.

"Kalau saya komunikasi dengan teman-teman di lapangan, kira-kira hampir 2 minggu yang lalu itu stok di penggilingan saja itu yang melaporkan, tentunya ini berdasar survei ya, itu daerah-daerah yang sudah panen terutama itu kira-kira 1,9 juta ton, itu penggilingan. Jadi artinya memang situasinya apa yang diprediksi Kementan oleh BPS kemudian dipakai oleh Kementan saya kira memang itu terjadi (surplus hingga 12 juta ton)," katanya.

Alasan lain kenapa ia yakin stok beras RI bakal surplus tahun ini, karena ada masa panen berbarengan dengan periode La Nina. Fenomena La Nina identik dengan curah hujan tinggi dan menyebabkan banjir. Hal itu, dikhawatirkan dapat membuat gabah hasil panen basah dan tak bisa disimpan di gudang Bulog. Namun, menurut Sutarto, justru fenomena La Nina positif bagi masa panen. Sebab, dengan adanya La Nina bisa memperluas luas tanam padi, sehingga RI mampu memproduksi beras tak hanya sampai bulan Mei saja bahkan bisa sampai Agustus 2021 nanti.

"Sekarang ini situasinya bagus, jadi La Nina itu pengalaman saya di pertanian 35 tahun itu justru positif, luas tanamnya akan menjadi tambah malah. Jadi Juni itu dia akan mudah-mudahan tahun ini pun (produksi) masih di atas kebutuhan, meskipun mepet, surplusnya mungkin sedikit.
Baru nanti Juli naik lagi, surplus, Agustus naik, nah September, baru turun, biasanya seperti itu," sambungnya.

(zlf/zlf)