Pengusaha Sebut Daging Sapi Dioplos Kerbau, Kemendag: Nggak Ada!

Vadhia Lidyana - detikFinance
Senin, 29 Mar 2021 19:45 WIB
Dampak kebijakan pembatasan impor daging sapi yang hanya 50.000 ekor di kuartal III-2015 sudah mulai terasa. Harga daging sapi di wilayah Jakarta masih tinggi yaitu Rp 120.000/Kilogram (Kg). Penjual memotong daging sapi di salah satu pasar tradisional di Jakarta. Rachman Haryanto/detikcom.
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Persoalan daging sapi yang dicampur daging kerbau dan dijual di pasar-pasar dengan menggunakan harga daging sapi segar kembali dibahas.Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong (Gapuspindo) Joni P. Liano mengatakan, aksi pencampuran atau pengoplosan daging sapi dengan kerbau itu masih terjadi hingga saat ini.

"Apa yang terjadi kondisi sekarang? Daging kerbau itu banyak yang dioplos, sebagai oplosan. Jadi ibaratnya nggak bisa dia jual 100%, karena preferensi di konsumen bukan itu," kata Joni dalam webinar HIPMI, Senin (29/3/2021).

Daging kerbau sendiri diimpor pemerintah melalui Perum Bulog setiap tahunnya, terhitung sejak 2014. Daging kerbau tersebut diimpor dari India dengan tujuan menekan kenaikan pada harga daging sapi segar.

Sayangnya, menurut Joni penjualan daging kerbau India di pasar tidak dipisahkan dengan daging sapi, sehingga harga daging sapi pun masih bertahan di level tinggi.

"Jadi kebijakan perlu ditinjau ulang, apalagi ke konsumen. Jadi ini siapa yang diuntungkan? Sementara, sebetulnya yang butuh industri pengolahan, karena memang harganya lebih murah. Kami minta ada segmentasi pasar," tegas Joni.

Namun, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Syailendra membantah hal tersebut. Menurutnya, pedagang tetap menjual daging kerbau terpisah, sehingga tak digabungkan dengan daging sapi.

Ia mencontohkan, misalnya seorang pembeli meminta daging untuk membuat rendang ke pedagang, maka yang diberikan kemungkinan daging kerbau. Namun, menurutnya harganya tetap menggunakan harga daging kerbau.

"Terkait oplosan, nggak ada yang mengoplos. Cuma bilang daging rendang, ya dikasih itu (daging kerbau). Kecuali dia beli daging sapi, dia dibohongi. Tapi dia bilang beli daging kerbau ya dikasih itu," tegas Syailendra.

Sementara itu, menurut Ketua Umum Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI) Ahmad Hadi, penjualan daging kerbau di pasar itu memang harus dipantau apakah dijual terpisah dalam bentuk daging beku, atau memang dioplos.

Pasalnya, jika tak dipantau, maka pada akhirnya harga daging sapi akan tetap tinggi. "Jadi yang memberi penugasan jangan dikasih cek kosong, dikontrol, dijual ke mana barangnya? Ini masukan. Karena ini yang menyebabkan harga tinggi juga," tutur Hadi.

Ia mengatakan, ketika daging kerbau India pertama kali didistribusikan ke pedagang pasar, ADDI bersama Perum Bulog bekerja sama memberikan mesin pendingin atau freezer kepada pedagang untuk menyimpan daging kerbau beku tersebut. Sayangnya, program tersebut tak dilanjutkan lagi.

"Di saat awal kami kerja sama dengan Bulog itu membagikan freezer kepada pembeli kami. Jadi supaya rantai pendinginnya jalan. Sayang program ini nggak lanjut karena Bulog nggak kasih kita barang," imbuh dia,

Namun, untuk saat ini ia meminta penjualan daging kerbau agar dipisahkan dengan daging sapi. Dengan demikian, masyarakat bisa membeli daging dengan harga murah.

"Kalau melihat di Malaysia itu dicantumkan, daging kerbau sekian, daging sapi sekian, ini pilihan. Buat warga Indonesia yang ingin beli daging segar monggo, harganya lebih mahal. Yang ingin beli lebih murah, dengan harga maksimal Rp 80.000/Kg, tersedia daging kerbau beku," pungkas Hadi.

(vdl/eds)