Program JHT BP Jamsostek Defisit Terus, Kok Bisa?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 30 Mar 2021 14:48 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Rasio kecukupan dana (RKD) program Jaminan Hari Tua (JHT) BP Jamsostek tak pernah mencapai 100% alias defisit sejak Juli 2017 hingga saat ini. Direktur BP Jamsostek Anggoro Eko Cahyo mengatakan, per Februari 2021 RKD program JHT hanya mencapai 95,2%.

"Pergerakan sejak 2017 ada di bawah 100% terus, terakhir di 2019 96,9%, di posisi Juli 2020 karena indeks saat itu 5.150, maka RKD dari JHT ada di 91,4%. Per Februari indeks sudah bergerak naik ke 6.200, maka RKD meningkat menjadi 95,2%," kata Anggoro dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi IX DPR RI, Selasa (30/3/2021).

Anggoro menjelaskan, penyebab dari defisit tersebut ialah alokasi dana JHT sebesar 23,8% ada di instrumen investasi saham dan reksadana. Sejak Juli 2017, indeks harga saham gabungan (IHSG) terus mengalami penurunan, sehingga menyebabkan nilai dari portofolio saham dan reksa dana juga menurun.

"Apa yang menyebabkan defisit? Dari dana yang kita miliki, 100% yang kita miliki, ada 23% dana yang kita kelola di instrumen saham dan reksadana. Ini yang salah satunya menyebabkan kenapa dana JHT rasio kecukupannya tidak sampai 100%. Penyebabnya tentu saja pergerakan harga di market. Indeks saham bergerak sejak 2017," papar Anggoro.

Untuk mengatasi defisit tersebut, pihaknya menyiapkan 3 opsi. Pertama, mengalihkan aset investasi dari saham dan reksadana ke obligasi atau investasi langsung.

"Sehingga secara perlahan kita akan rekomposisi aset yang ada untuk meminimalisir risiko pasar yang terjadi saat ini. Sehingga nantinya bobot instrumen saham dan reksadana di portofolio JHT akan semakin kecil. Ini tentu saja ke depan akan mengurangi dampak dari fluktuasi indeks harga," ujar dia.

Kedua, pihaknya akan berkoordinasi dengan para emiten yang saham-sahamnya kini menjadi portofolio dari program JHT, untuk melihat bagaimana prospek perusahaan ke depannya.

"Agar kita tahu bagaimana prospek dari saham yang kita pegang tersebut, dan kita bisa putuskan bagaimana saham tersebut apakah rekomposisi atau masih bisa kita hold sampai waktu yang kita lihat punya prospek," jelasnya.

Terakhir ialah pemulihan RKD sisi liabilitas. "Ketiga dari sisi liabilitas terkait alma (asset liability management), kita lihat juga bagaimana menerapkan metode hasil pengembangan itu memperhatikan kesehatan keuangan kita juga. Dengan tetap memastikan pengembangan di atas suku bunga yang dijamin UU. Jadi dari sisi aset dan liabilitas kita akan lihat opsi-opsinya," pungkas dia.

Simak juga 'Saat BP Jamsostek Kejar Target 10 Juta Rekening':

[Gambas:Video 20detik]



(vdl/zlf)