Tekan Harga Cabai, Pemerintah Andalkan Mesin Pengawet

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 01 Apr 2021 08:00 WIB
Harga cabai rawit di berbagai wilayah termasuk Jakarta tengah jadi sorotan. Pasalnya harganya naik salah satunya akibat cuaca buruk yang melanda Tanah Air.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Sejak awal 2021, harga cabai rawit merah sudah merangkak naik, terutama di DKI Jakarta dan sekitarnya. Bahkan, pada awal Maret 2021, harga cabai rawit merah sempat menyentuh Rp 150.000/Kg.

Kenaikan harga cabai memang selalu terjadi di musim hujan, dengan curah hujan yang ekstrem. Pada musim tersebut, sangat jarang petani yang bisa memanen cabai, sehingga stok menipis yang mengakibatkan harga melambung.

Sebaliknya, ketika musim panas, petani panen raya cabai. Pada musim tersebut, stok cabai melimpah, dan harga anjlok. Bahkan, harga cabai bisa di bawah Rp 20.000/Kg.

Tentunya, musim hujan akan menguntungkan petani yang bisa memproduksi cabai, dan konsumen terpaksa membeli cabai di harga yang mahal. Sebalikya, musim panas akan merugikan petani karena harga cabai anjlok saat panen, dan hanya konsumen yang diuntungkan.

Fluktuasi atau labilnya harga cabai sudah menjadi konsumsi masyarakat Indonesia setiap tahunnya.

Lalu, apa solusinya?

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengatakan, pihaknya saat ini sedang mempersiapkan mesin yang bisa menyimpan cabai dalam waktu yang lama, dengan kualitas yang baik.

Mesin tersebut menggunakan teknologi ozon yang bisa mengawetkan cabai sampai kurang lebih 2 bulan dengan tetap mempertahankan kualitasnya.

"Untuk periode tanam kedua mudah-mudahan kita sudah bisa bantu dengan alat untuk menyimpan cabai dalam waktu yang cukup lama, lebih kurang 2 bulan. Jadi kalau over supply kita bisa simpan," kata Syailendra kepada detikcom, Rabu (31/3/2021).

Nantinya, mesin tersebut akan dibagikan kepada petani di sentra-sentra besar produksi cabai, antara lain di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Targetnya, pada musim panen besar kedua yakni Juli-Agustus 2021, mesin ini sudah bisa dibagikan.

"Bagaimana cara mengatasi cabai ini, mudah-mudahan panen kedua alat-alat itu sudah bisa kita install di sentra-sentra produksi, dan cabainya jauh lebih bagus," papar Syailendra.

Tak hanya itu, petani juga akan diajarkan cara memanen cabai yang baik agar kualitas cabai lebih baik. Dengan demikian, ketika musim panen, kelebihan stok cabai bisa disimpan untuk kemudian didistribusikan ketika tak ada panen.

"Kita di daerah sentra-sentra yang besar dulu. Ini bukan coba lagi, sudah tinggal pasang," pungkas dia.

(vdl/eds)