Bareng Indonesia, Malaysia-Thailand Belum Keluar dari Jebakan Ini

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 01 Apr 2021 15:50 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi pertumbuhan ekonomi secara kumulatif atau sampai September 2018 sebesar 5,17%.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Indonesia hingga kini masih berada dalam kategori middle income trap. Middle income trap adalah istilah yang disematkan kepada negara yang belum bisa naik kelas dari pendapatan menengah ke bawah.

Namun, Indonesia tak sendirian terjebak dalam negara berpendapatan menengah. Setidaknya, ada beberapa negara yang masuk middle income trap yang diungkap Sri Mulyani dalam paparannya di sebuah webinar.

"Di dalam tabel sebelah kanan betapa banyak negara, mereka bisa mencapai status middle income tapi sudah 20 hingga 25 tahun stuck in the middle. Makanya disebut middle income trap," kata Sri Mulyani dalam webinar, Kamis (1/4/2021).

Negara-negara yang masuk kategori middle income trap antara lain Brasil, Malaysia, Meksiko, Thailand, dan Indonesia. Sedangkan beberapa negara yang telah berhasil keluar menjadi negara maju yaitu Singapura, Jepang, dan Korea Selatan.

Menurut Sri Mulyani Negara masuk kategori middle income trap disebabkan faktor struktural.

"Mereka tidak bisa achieve higher income country status karena kemudian mereka bergulat dengan perangkap, di mana perangkapnya itu adalah sifatnya struktural. Membenahi tadi seperti yang saya sampaikan SDM itu tidak mudah, membangun infrastruktur luar biasa sulitnya, membangun sebuah teknologi tidak bisa simsalabim," paparnya.

Begitupun membangun birokrasi yang baik, dijelaskan mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu membutuhkan waktu bertahun-tahun. Jadi prosesnya tidak bisa instan.

"Mungkin Kementerian Keuangan sekarang banyak mendapatkan berbagai award. Tapi itu dibutuhkan suatu kerja yang luar biasa banyak dan keras, dan detail dan disiplin. Dan itu tidak setahun, tidak lima tahun, itu membutuhkan bertahun-tahun dan tentu mengelola sumber daya alam kita menjadi sesuatu yang luar biasa penting," tutur Sri Mulyani.

(toy/hns)