Begini Bahayanya Jika Kondisi Keuangan BUMN Karya Semakin Parah

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 04 Apr 2021 22:00 WIB
Sore ini, Minggu (5/5/2019), Kementerian BUMN memperingati hari ulang tahunnya yang ke-21. Dalam peringatan hari ulang tahunnya ini, kementerian melakukan peresmian gedung baru.
Foto: Hendra Kusuma
Jakarta -

Kinerja keuangan BUMN infrastruktur tengah terpuruk. Apa jadinya jika kondisi itu terjadi berkepanjangan?

Beberapa BUMN infrastruktur yang sudah melaporkan kinerja keuangan di 2020 mengalami penurunan laba bersih yang sangat tajam. Bahkan Waskita Karya mengalami kerugian hingga Rp 7,3 triliun, sedangkan laba Wijaya Karya turun 91% dan PTPP turun 84%.

Menurut Ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira, para BUMN karya kecil kemungkinan akan mengalami kebangkrutan jika kondisi tersebut berlanjut. Sebab proyek-proyek infrastruktur yang dikerjakan mereka juga dijamin negara.

"Masalah akan muncul ketika risiko kontinjensi membesar, di mana ujungnya APBN dari pajak rakyat akan dipakai untuk talangi BUMN atau proyek yang bermasalah," tuturnya saat dihubungi detikcom, Minggu (4/4/2021).

Sebagai perusahaan milik negara, tenu BUMN yang menghadapi masalah akan dibantu negara, salah satunya menggunakan APBN. Namun kata Bhima hal itu menimbulkan risiko kontinjensi.

Risiko kontinjensi akan menjalar menjadi masalah baru. Salah satunya menurunkan kepercayaan investor untuk membeli surat utang pemerintah.

Selain itu risiko kontinjensi juga akan menjadi beban fiskal. Anggaran pemerintah yang tadinya dialokasikan untuk belanja darurat seperti belanja kesehatan, perlindungan sosial hingga transfer daerah akan terbagi untuk menalangi dulu bumn yang bermasalah.

"BUMN-nya sendiri pun bisa kesulitan dapat pinjaman baru, sementara cash flow tertekan dan proyek yang sedang berjalan bisa macet. OECD sudah peringatkan sejak 2018 lalu bahwa hati-hati BUMN bisa timbulkan risiko ke fiskal," terangnya.

Sementara menurut mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, penyebab merosotnya kinerja keuangan BUMN karya tidak lain karena pekerjaaan infrastruktur yang begitu besar beberapa tahun terakhir.

"Sebagian BUMN infrastruktur ngeri dengan besarnya modal yang harus disiapkan. Mereka memilih jadi kontraktor saja. Tapi ada BUMN yang ambisius sekali, memiliki tol itu sekaligus mengerjakannya. Uang bisa dicari kata mereka," tulis Dahlan dalam laman pribadinya Disway.

Sekuat-kuatnya perusahaan bahkan BUMN sekalipun tentu membutuhkan sumber dana dari pihak ketiga untuk membangun infrastruktur. Sementara bank yang juga menjadi sumber pendanaan ada batasan peraturan dalam pemberian kredit kepada satu grup perusahaan.

Ketika perusahaan sudah tidak bisa pinjam ke bank, maka perusahaan bergantung pada penerbitan surat utang seperti obligasi. Namun tentu investor cermat melihat perusahaan yang menerbitkan obligasi yang memang masih memiliki kemampuan pinjam ke bank ataupun yang sudah kepepet. Sehingga pemilik dana obligasi bisa menetapkan bunga yang tinggi.

Sementara obligasi ini memiliki masa waktu jatuh tempo. Jika perusahaan tak mampu membayar, maka pilihan lainnya adalah kembali menerbitkan obligasi baru.

"Perkiraan saya, merosotnya kinerja keuangan mereka sebagian besar akibat kemakan bunga tinggi," kata Dahlan.



Simak Video "Vaksinasi Pegawai BUMN Sempat Tak Jaga Jarak, Ini Penjelasannya"
[Gambas:Video 20detik]
(das/dna)