H&M hingga Nike Terancam Diboikot, Bisnis di China Makin Sulit

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 05 Apr 2021 10:47 WIB
Ilustrasi bendera China/ebcitizen.com
Foto: Internet/ebcitizen.com
Jakarta -

Perusahaan asing sulit masuk China. Kini kesulitan itu meningkat setelah sejumlah perusahaan AS menuduh China melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Pemerintah China dituduh menindas kaum Uighur dan kelompok minoritas lainnya terkait kerja paksa, penahanan massal, dan sterilisasi. China pun keras membantah semua tuduhan tersebut, dan mengatakan kamp-kampnya di wilayah tersebut adalah pusat pelatihan kejuruan yang dirancang untuk memerangi terorisme dan ekstremisme agama.

Mengutip CNN, Senin (5/4/2021), beberapa hari kemudian, H&M (HNNMY), Nike (NKE), Adidas (ADDDF) dan pengecer AS lainnya diancam dengan boikot di China. H&M (HNNMY) bahkan ditendang oleh toko-toko e-commerce besar China.

Selama ini perusahaan AS dan Eropa tidak bisa mengabaikan bagaimana pasar China telah menguntungkan bisnisnya. Penasihat senior untuk Asia dan Direktur Proyek Kekuatan China di Pusat Kajian Strategis dan Internasional, Bonnie Glaser mengatakan pasar China memang menarik bagi bisnis.

"Bertahun-tahun yang lalu, ketika perusahaan pertama kali mulai datang ke China, bahkan jika mereka tidak menghasilkan uang selama beberapa tahun, mereka tetap bertahan karena pada akhirnya orang-orang akan memiliki lebih banyak uang dan akan mampu membelanjakan uangnya," jelasnya.

Tetapi jika berhasil membobol pasar China juga harus memenangkan hati regulator yang memegang kendali besar atas siapa yang bisa masuk dan apa yang harus mereka lakukan. Peraturan yang regulator China buat juga terkenal ketat.

Perusahaan internasional sering dipaksa untuk mengakui aspek-aspek tertentu dari bisnis mereka sebelum mendapatkan akses ke pasar, termasuk melalui usaha patungan yang didirikan dengan mitra lokal. Meskipun beberapa peraturan telah dilonggarkan dalam beberapa tahun terakhir, namun peraturan lainnya menjadi sumber ketegangan bagi perusahaan asing.

Jika melanggar peraturan dari regulator China, hukumannya tidak tanggung-tanggung. Google (GOOGL), misalnya, telah ditutup secara permanen. Mereka sejak 2006 hingga 2010 menawarkan akses penelusuran Google di negara itu dengan hasil yang disensor.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Simak video 'Angkat Isu Uighur, China Ancam Boikot H&M Hingga Nike':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2