Mereka yang Jadi Orang Kaya Baru Selama Corona, Paling Banyak dari China

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 07 Apr 2021 11:36 WIB
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah akhirnya tembus ke level Rp 15.000. Ini adalah pertama kalinya dolar AS menyentuh level tersebut pada tahun ini.
Ilustrasi/Foto: Rengga Sancaya

Miliarder termuda yang bergabung dengan geng miliarder dunia tahun ini adalah Austin Russell yang mengantongi US$ 2,4 miliar. Pendiri startup laser lidar Luminar berusia 26 tahun itu membuat sensor yang membantu mobil mengemudi sendiri.

Pendatang baru lainnya termasuk sponsor serial SPAC, Chamath Palihapitiya berharta US$ 1,2 miliar dan Bill Foley berharta US$ 1,9 miliar.

Yang lain menciptakan kekayaan baru dengan cara klasik, yaitu dengan membawa perusahaan mereka ke publik melalui IPO. Sebut saja Whitney Wolfe Herd yang kini memiliki kekayaan US$ 1,3 miliar lewat Bumble, aplikasi kencan yang didaftarkan di Nasdaq.

Wanita baru terkaya dalam daftar juga memulai debutnya setelah IPO. Pan Dong, yang memimpin pembuat deterjen laundry Blue Moon Group Holdings mendaftarkan perusahaannya di bursa Hong Kong pada Desember. Kekayaannya US$ 8,3 miliar.

Lalu ada miliarder cryptocurrency. Berkat booming uang kripto, Bitcoin meroket 800% antara pertengahan Maret 2020 dan pertengahan Maret 2021, sementara XRP Ripple naik 200%. Yang terkaya adalah Sam Bankman-Fried yang berusia 29 tahun. Dia telah mengumpulkan kekayaan US$ 8,7 miliar sebagai pendiri dua perusahaan kripto. Tentu masih banyak lagi miliarder baru berkat uang kripto.

Forbes juga menemukan 61 miliarder baru dari bidang perawatan kesehatan pada tahun ini. Setidaknya 40 diantaranya bergabung berkat keterlibatan mereka dalam perang melawan pandemi COVID-19. Itu termasuk Sergio Stevanato yang hartanya US$ 1,9 miliar. Kekayaannya dikumpul lewat Stevanato Group yang memproduksi banyak botol kaca untuk menampung vaksin COVID-19.

Miliarder perawatan kesehatan baru lainnya di garis depan COVID-19 termasuk Prathap Reddy yang hartanya US$ 1,5 miliar. Dialah dokter miliarder India yang jaringan rumah sakitnya berubah fokus pada perawatan dan diagnosis COVID-19.

Kemudian ada Uğur Şahin yang hartanya US$ 4 miliar. Dokter kelahiran Turki yang mendirikan perusahaan Jerman BioNTech itu yang mengembangkan vaksin dalam kemitraan dengan Pfizer.

Adapula Stéphane Bancel berharta US$ 4,3 miliar. CEO dari perusahaan Moderna yang berbasis di AS itu mengembangkan vaksin COVID-19 telah disetujui di AS pada Desember.

Halaman

(toy/ara)