Penuhi Pasar Kerja, BLK Komunitas Diminta Libatkan Asosiasi Industri

Jihaan Khoirunnisaa - detikFinance
Rabu, 07 Apr 2021 22:16 WIB
Kemnaker
Foto: Kemnaker
Jakarta -

Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan, Dita Indah Sari mendorong BLK Komunitas untuk mencetak tenaga kerja yang siap masuk ke pasar kerja. Untuk itu diperlukan keterlibatan berbagai pihak, seperti industri lokal, asosiasi industri, dan perusahaan penempatan tenaga kerja luar negeri, mulai dari proses perencanaan pembangunan BLK, proses pelatihan, hingga pascapelatihan.

Sebagai contoh, Dita menggambarkan dengan BLK Komunitas yang menggelar pelatihan sektor pariwisata. Menurutnya, dalam mengembangkan SDM sektor pariwisata, BLK Komunitas harus menjalin komunikasi dan kerja sama dengan asosiasi industri seperti PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia). Hal ini agar lulusan BLK Komunitas memiliki keterampilan mumpuni yang dibutuhkan oleh industri.

"Kita harus bersinergi antara pegiat pariwisata dan para praktisi pariwisata, asosiasi pariwisata dalam hal ini PHRI serta dengan Pemerintah Daerah," kata Dita dalam keterangan tertulis, Rabu (7/4/2021).

Hal tersebut diungkapkannya dalam acara Sosialisasi BLK Komunitas Bidang Wisata dan P3MI Wilayah Labuan Bajo di Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, kemarin (6/4/2021).

Selain asosiasi industri setempat, kata Dita, pengembangan BLK Komunitas bidang pariwisata juga dapat menggandeng Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI). Dengan begitu pelatihan yang diselenggarakan tidak hanya sesuai dengan kebutuhan pasar kerja lokal, tapi juga pasar luar negeri.

Diungkapkan Dita, terdapat 20 keterampilan dalam sektor pariwisata yang beririsan dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh Pekerja Migran Indonesia (PMI). Artinya, saat BLK Komunitas bekerja sama dengan PHRI dan P3MI, lulusan pelatihan dapat bekerja di dalam maupun luar negeri.

"Asalkan ada job order dari luar negeri dan ada standar yang bisa disesuaikan," terangnya.

Dita menyebut pelatihan bidang pariwisata di BLK Komunitas yang dikerjasamakan dengan asosiasi industri lokal dan P3MI memiliki banyak keuntungan. Salah satunya adalah penguatan softskill atau attitude yang sesuai dengan industri baik lokal maupun luar negeri.

"Karena kalau punya attitude yang baik itu gampang dibentuk, daripada punya skill tapi attitude-nya buruk, itu susah dibentuk," katanya.

Keuntungan lainnya, yaitu BLK Komunitas dapat menjalin kerja sama pemagangan sehingga peserta pelatihan dapat melihat dan merasakan langsung industri yang akan digeluti.

Dengan jalinan kerja sama, lanjut Dita, BLK Komunitas juga akan lebih mandiri dalam menjalankan program pelatihan, meskipun tidak ada lagi anggaran pelatihan dari pemerintah.

"Kalau dia punya mitra, entah itu P3MI, PJTKI, hotel atau asosiasi, dia akan tetap operated meskipun tidak ada anggaran dari pemerintah, minimal dia bisa mandiri. Itu output yang kita harapkan dari kerja sama ini," ujarnya.

Di sisi lain, Pakar Pekerja Migran Indonesia (PMI), Reyna Usman menambahkan program BLK Komunitas tidak hanya sekadar membangun secara fisik, melainkan turut meningkatkan keterampilan masyarakat.

"Kita ingin melakukan percepatan tidak hanya kepada komunitas tetapi juga kepada pasar kerja yang ada di daerah masing-masing," katanya.

Menurut Reyna, ke depan Labuan Bajo atau daerah NTT bisa diproyeksikan untuk daerah wisata super prioritas. Untuk itu, pelatihan jurusan wisata harus diarahkan lebih ke pasar kerja.

"Saya melihat jurusan pariwisata itu perlu lebih ke pasar kerja, jangan lulusan pendidikan kita tidak diterima oleh pasar kerja," pungkasnya.

(ncm/hns)