Utang Rp 90 T Bikin Waskita 'Berdarah-darah'

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 09 Apr 2021 06:45 WIB
PT Jasamarga Solo Ngawi saat ini telah mengebut pekerjaan proyek  jembatan yang dirancang khusus tahan gempa. Tak tanggung-tanggung, jembatan yang di sub kan pengerjaannya ke PT. Waskita Karya memiliki kekuatan penuh tahan gempa hingga seribu tahun.
Ilustrasi/Foto: Sugeng Harianto
Jakarta -

Kinerja BUMN PT Waskita Karya (Persero) Tbk sungguh berat di tahun 2020. Bagaimana tidak, perusahaan menanggung utang hampir Rp 90 triliun dan beban bunga utang Rp 4,7 triliun.

Perusahaan sebenarnya berupaya memperbaiki kinerja dengan melakukan divestasi 5 ruas tol di tahun lalu. Sayang, investor menunda rencananya karena pandemi COVID-19.

Di tahun ini, Waskita Karya berencana melepas 9 ruas tol. Harapannya, pelepasan 9 ruas tol ini mengurangi beban utang perusahaan yang menggunung.

"Kalau ini terjadi maka ini akan mengurangi beban utang Waskita yang tahun lalu dengan utang hampir Rp 90 triliun itu kami harus menanggung beban bunga Rp 4,7 triliun, jadi ini sangat-sangat berat. Sebelum COVID rate rendah, setelah COVID justru interest rate naik ini menjadi beban," kata Direktur Utama Waskita Karya Destiawan Soewardjono dalam webinar, Kamis (8/4/2021).

Direktur Keuangan Waskita Karya Taufik Hendra Kusuma menuturkan, jika divestasi berhasil maka beban utang yang bisa terpangkas mencapai Rp 20 triliun. Selain divestasi, perusahaan juga memperbaiki kinerja dengan restrukturisasi utang.

"Divestasi Pak Dirut sudah ceritakan, tahun ini saja kalau misalnya kita bisa sesuai target 9 ruas praktis kita bisa merilis dari sisi utang sampai ke sekitar Rp 20 triliun itu akan lepas baik efeknya dari pembayaran maupun dari rekonsolidasi, belum termasuk profitnya," terangnya.

"Saat ini proses 9, yang sudah di ujung sudah ada 4, dan yang pipe line 5 lagi. Kemudian restrukturisasi ini pastinya akan dengan perbankan sekarang dalam proses pastinya akan membuat beban bunga akan menurun, mudah-mudahan bisa realisasi kami mendapat fully support dari Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan juga dalam proses support juga," katanya.

Sebagai informasi, perusahaan pelat merah ini membukukan rugi sebesar Rp 7,28 triliun pada tahun 2020. Sementara pada tahun sebelumnya mencetak laba Rp 872 miliar. Total liabilitas Rp 89,01 triliun, turun dibanding periode sebelumnya Rp 93,47 triliun.

Selanjutnya
Halaman
1 2