Kementan Minta Pertani Serap Gabah Komersil Biar Stok & Harga Stabil

Jihaan Khoirunnisaa - detikFinance
Sabtu, 10 Apr 2021 10:53 WIB
harga gabah di banyuwangi
Foto: Ardian Fanani
Jakarta -

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, Agung Hendriadi mengatakan selain penyerapan gabah oleh Bulog dengan skema PSO (Public Service Obligation), pihaknya juga mendorong penyerapan gabah komersil melalui kerja sama dengan PT Pertani. Hal ini demi menjaga stabilitas pasokan dan harga, baik di tingkat konsumen maupun produsen.

"Penyerapan gabah ini untuk mengendalikan harga, karena itu kita dorong PT Pertani menyerap gabah secara komersil dengan harga di atas HPP," ujar Agung dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/4/2021)

Hal tersebut diungkapkannya saat kunjungan kerja ke Unit Penggilingan Padi (UPP) PT Pertani, di Sidrap, Sulawesi Selatan, kemarin (9/4). Selain penyerapan, Agung menyebut penyaluran juga penting untuk diperhatikan.

"Selain mendistribusikan ke wilayah-wilayah di dalam negeri, Pak Mentan Syahrul Yasin Limpo juga mendorong agar produksi beras kita diekspor," ujarnya.

Menurutnya, ekspor juga bertujuan untuk mengendalikan harga gabah. Jika mampu menyerap lebih banyak, maka bisa menyalurkan lebih banyak, dan PT Pertani dapat bekerja sesuai kapasitas optimumnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Kantor Wilayah IV PT Pertani, Arief Mugiharjo menyatakan kesiapannya dalam mengoptimalkan penyerapan gabah di wilayahnya.

"PT Pertani melakukan serap gabah ini dengan mengoptimalkan infrastruktur yang ada, kita memiliki lima UPP di Sulselbar dengan potensi kapasitas simpan mencapai di atas 30 ribu ton," ungkap Arief.

Sampai dengan saat ini, lanjut Arief, stok yang masuk di UPP Sidrap mencapai 2 ribu ton. Dia mengatakan penyerapan tersebut akan terus berlanjut hingga akhir musim panen raya.

"Kita optimis dengan didukung alat silo dryer, lantai jemur, gudang, kapasitasnya cukup untuk mem-backup panen sampai saat ini," katanya.

Untuk diketahui, Provinsi Sulawesi Selatan merupakan daerah sentra beras keempat terbesar dengan luas panen mencapai 1,5 juta hektare dan menghasilkan padi sebesar 4,7 juta ton GKG atau sekitar 2,6 juta ton beras.

(ncm/ara)