BP Migas Desak Exxon Berikan Studi Natuna D-Alpha
Senin, 06 Mar 2006 21:44 WIB
Jakarta - Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) mendesak ExxonMobil Oil Indonesia (EMOI) segera menyampaikan studi kelayakan untuk pengembangan Blok Natuna D-Alpha. Pasalnya, tanpa studi kelayakan itu, status blok tersebut menjadi tidak jelas dan tidak bisa segera dikembangkan."Kita minta, mana feasibility study-nya? Sampai sekarang kita belum terima, kalau hanya omong-omong saja itu bukan feasibility study," ujar Kepala BP Migas, Kardaya Warnika, usai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR, di Gedung DPR/MPR Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (6/3/2006).Kardaya menjelaskan, Blok Natuna D-Alpha yang memiliki cadangan gas yang bisa dikomersialisasi sebesar 46 triliun kaki kubik itu hingga kini masih belum dikembangkan. Pasalnya, kontraktor yang menguasai blok tersebut, Exxon, secara hukum masih menguasai blok tersebut. Kontrak blok itu, lanjut dia, sebetulnya habis pada 1994. Namun, saat itu kontrak diubah dengan menambahkan basic agreement pada tahun yang sama yang memberikan kesempatan bagi Exxon untuk memperpanjang kontrak. Syaratnya, Exxon harus melakukan studi kelayakan bagi pengembangan blok tersebut.Sayangnya, dalam perubahan itu tidak dicantumkan batas waktu bagi Exxon untuk menyerahkan studi kelayakan tersebut. Akibatnya, tanpa ada penyerahan studi kelayakan dari Exxon, blok tersebut tidak bisa dipindahtangankan oleh pemerintah pada kontraktor migas lainnya. Sementara itu, Exxon tak kunjung menyerahkan studi kelayakan yang diminta BP Migas.Pengembangan blok migas itu memang juga terkendala oleh tingginya biaya produksi gas yang terutama disebabkan oleh kandungan CO2-nya yang sangat tinggi, mencapai 70 persen. Untuk mengembangkan blok tersebut ke tahap komersialisasi, butuh biaya lebih tinggi dibanding pengembangan lapangan gas pada umumnya. Namun, bagi BP Migas, hal itu dinilai bukan menjadi alasan bagi Exxon untuk tidak membuat studi kelayakannya."Di dalam kontrak tidak memang disebutkan batas waktu. Yang ada, pernyataan untuk memperpanjang atau tidak, itu Januari 2005 dalam basic agreement. Kalau Exxon menyebutkan tidak akan diperpanjang itu otomatis terhenti, tapi masalahnya dia menyampaikan akan memperpanjang," ujar Kardaya.Kini, status blok migas itu yang diperkirakan memiliki total cadangan sebesar 222 triliun kaki kubik (TCF) itu menjadi tak jelas. BP Migas berharap studi kelayakan segera dibuat, hingga bisa dievaluasi dan ditentukan apakah pengembangan Blok Natuna D-Alpha bisa diserahkan pada Exxon atau dihentikan.
(mar/)











































