AS-Jepang Bakal Berkongsi Lawan China

Danang Sugianto - detikFinance
Jumat, 16 Apr 2021 15:10 WIB
Joe Biden (Brendan Smialowski/AFP/Getty Images)
Presiden AS Joe Biden/Foto: Brendan Smialowski/AFP/Getty Images
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden kedatangan tamu penting yakni Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga. Ini merupakan kunjungan petinggi negara pertama ke Gedung Putih semenjak Biden dilantik.

Kedatangan Suga sebagai tamu pertama Biden juga mengisyaratkan bahwa Jepang memiliki peran sentral dalam strategi AS melawan China.

Melansir Reuters, Jumat (16/4/2021), seorang pejabat senior AS mengungkapkan pertemuan itu diharapkan menghasilkan langkah-langkah yang mendiversifikasi rantai pasokan AS yang dipandang terlalu bergantung pada China. Selain itu diharapkan juga komitmen senilai US$ 2 miliar dari Jepang untuk bekerja dengan AS dalam mengembangkan jaringan 5G sebagai alternatif dari perusahaan China Huawei.

Biden dan Suga juga diharapkan membahas masalah hak asasi manusia yang terkait dengan China, termasuk situasi di Hong Kong dan Xinjiang Selain itu pertemuan tersebut diharapkan menghasilkan pernyataan resmi tentang Taiwan, sebuah pulau yang memiliki pemerintahan sendiri namun diklaim China dan berada di bawah tekanan militer China yang semakin meningkat.

Jika benar hal itu akan menjadi pernyataan bersama pertama tentang Taiwan oleh para pemimpin AS dan Jepang sejak 1969. Namun tampaknya harapan itu tidak akan sesuai karena Suga mewarisi kebijakan China yang berusaha menyeimbangkan masalah keamanan dengan hubungan ekonomi.

Dalam sebuah pernyataan setelah pertemuan para pejabat AS-Jepang bulan Maret lalu, kedua belah pihak menggarisbawahi pentingnya perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dan berbagi keprihatinan serius tentang hak asasi manusia di Hong Kong dan Xinjiang.

Pejabat AS itu mengatakan bahwa kedua negara, meski tidak ingin meningkatkan ketegangan atau memprovokasi China, berusaha mengirim sinyal yang jelas bahwa pengiriman pesawat tempur Beijing ke zona pertahanan udara Taiwan tidak sesuai dengan tujuan menjaga perdamaian dan stabilitas.

(das/hns)