Serbu Bun! 6.200 Ton Daging Kerbau Sudah Masuk, Dijual Rp 80 Ribu/Kg

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 22 Apr 2021 13:35 WIB
Daging Kerbau di Pasar Jatinegara
Foto: Daging Kerbau di Pasar Jatinegara (Anisa Indraini/detikcom)
Jakarta -

Sebanyak 6.200 ton daging kerbau beku yang diimpor dari India sudah masuk ke gudang Perum Bulog. Daging-daging tersebut langsung disebarkan ke seluruh Indonesia untuk menstabilkan harga daging sapi yang mengalami kenaikan di bulan Ramadhan ini.

Sekretaris Perusahaan Bulog Awaludin Iqbal mengatakan, daging kerbau tersebut dijual sampai ke konsumen dengan harga Rp 80.000/Kg.

"Harga Rp 80.000/Kg itu adalah harga yang ditetapkan pemerintah untuk daging kerbau beku sampai di masyarakat," kata Awaludin kepada detikcom, Kamis (22/4/2021).

Ia mengatakan, distribusi daging kerbau dari India itu masih terus berlangsung. Pihaknya menargetkan sampai bulan Mei nanti sudah masuk 15.000 ton daging kerbau beku.

"Itu data yang sudah masuk gudang, tapi ada beberapa kapal lagi yang sudah lewat. Tapi kita pastikan sampai dengan bulan Mei akan sampai dengan 15.000-an ton," ujar Awaludin.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, impor tahun ini berjalan relatif tanpa hambatan. Tahun lalu, Bulog pernah mengalami kesulitan mengimpor karena ada kebijakan lockdown di India.

"Sebetulnya relatif nggak ada (hambatan pengiriman). Kita memang terus melihat kondisi juga," tutur dia.

Bulog sendiri mendapat jatah impor daging kerbau sebanyak 80.000 ton tahun ini. Pihaknya sudah meneken kontrak pengiriman 22.000 ton daging kerbau selama periode Maret-Juni 2021.

Sebelumnya, Bulog telah menggelar operasi pasar daging sejak Senin, (19/4) lalu, dan akan digelar sampai besok, Jumat (23/4). Dalam operasi pasar itu, Bulog menjual daging kerbau beku seharga Rp 80.000/Kg, dan juga tersedia daging sapi beku Rp 90.000/Kg. Daging sapi diimpor oleh PT Berdikari (Persero). Operasi pasar itu digelar Rumah Pangan Kita Gatot Subroto, Jakarta.

"Daging sapi itu sinergi BUMN. Jadi yang melakukan importasi Berdikari. Itu disebarkan ke beberapa BUMN yang punya jaringan pangan. Misalnya Bulog, PPI, dan Berdikari sendiri. Jadi itu sinergi BUMN, yang intinya untuk stabilisasi harga daging," pungkas Awaludin.

(vdl/zlf)