Tinggalkan Karir demi Kaktus, Pemuda Ini Raup Ratusan Juta/Bulan

Nurcholis Maarif - detikFinance
Senin, 26 Apr 2021 18:30 WIB
Aldy meninggalkan kariernya sebagai spesialis di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang gas alam untuk bisnis di bidang pertanian. Sebab dia melihat ada peluang bisnis yang menjanjikan di dunia pertanian, khususnya bertani komoditas hortikultura.
Foto: Dok. Kementan
Jakarta -

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Prihasto Setyanto memuji anak muda yang saat ini tengah fokus mengembangkan agribisnis. Prihasto melihat banyak sekali petani milenial yang akhirnya memilih bertani daripada menjadi karyawan, seperti halnya Aldy Ridwan.

"Dia ini masih muda, tapi sudah berpenghasilan ratusan juta sebulan, saya kagum dengan anak-anak muda seperti ini. Makanya saya yakin pertanian ini akan sukses di tangan petani milenial," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (26/4/2021)

Diketahui, Aldy meninggalkan kariernya sebagai spesialis di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang gas alam untuk bisnis di bidang pertanian. Sebab dia melihat ada peluang bisnis yang menjanjikan di dunia pertanian, khususnya bertani komoditas hortikultura.

Lelaki berkulit putih dan berjenggot tebal itu memulai usahanya dengan bertani kaktus di tempat kelahirannya di Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Pilihan hidup Aldy memang patut diacungi dua jempol, sebab meski di usianya yang terbilang muda, dia sudah berpenghasilan ratusan juta rupiah per bulan.

Kaktus asal Lembang ini merupakan jenis tanaman kaktus dalam klasifikasi mahal. Aldy tak menampik jika ada tanamannya yang tembus hingga puluhan juta rupiah per pohon.

"Kami punya koleksi kaktus, koleksi saya ini cukup langka dan unik, sehingga harganya mencapai puluhan juta rupiah, namun kalau yang diekspor ke beberapa negara itu harganya di kisaran US$ 5-10," ujar Aldy

Aldy mengaku sangat tertarik menggeluti tanaman kaktus, sebab harga jual di pasar ekspor terbilang mahal, sehingga bisnis ini pun dianggap sangat menjanjikan. Apalagi permintaan luar negeri hampir setiap bulan ada. Petani kaktus itu juga mengungkapkan bahwa dia mengawali kariernya sebagai eksportir kaktus sejak 2015 dengan tujuan ke beberapa negara di dunia.

"Ya, alhamdulillah mas, kaktus ini sudah kita ekspor ke Australia, USA, Canada, Philippines, Thailand, Singapore, Korea Selatan, Brunei Darussalam, Afrika Selatan dan Inggris. Dalam waktu dekat (30/04) ini kita akan ekspor ke Rusia sebanyak 1.836 pcs senilai US$ 7.324 atau Rp 102,5 juta dan bulan depan (05/2021) kita akan ekspor ke Australia 1.300 pcs," ungkap Aldy.

Diungkapkannya, omzet yang dihasilkan dari penjualan kaktus memang tak menentu. Tapi karena konsumennya merupakan penghobi tanaman yang sudah berbentuk komunitas atau paguyuban, maka penjualan kaktus ini tetap bagus.

Namun Aldy tak menyangkal jika di era pandemi COVID-19 ini memang penjualan offline menurun. Sebaliknya, penjualan secara online justru meningkat hingga 500%. Aldy juga mengungkapkan bahwa perawatan kaktus cukup gampang, sebab tanaman ini terbilang gampang tumbuh.

"Kaktus ini termasuk tumbuhan yang gampang perawatannya, paling disiram itu yah seminggu sekali, air yang dibutuhin juga nggak banyak-banyak, terus proses packaging produknya juga tidak sulit," bebernya.

CEO CV. Istana Bunga Kaktus itu juga merasa senang bisa merangkul para petani milenial di lingkungan sekitar, mengajarinya bertanam, perawatan, hingga mekanisme ekspor. Kini beberapa anak muda yang pernah belajar dengan Aldy itu usahanya sudah mandiri dan bisa ekspor. Bagi Aldy, kesuksesan petani milenial di wilayahnya untuk merambah pasar ekspor adalah impiannya sejak dulu.

(akd/hns)