Kisah Pelaut Perempuan Lawan Anggapan Cuma Pria Bisa Pimpin Kapal

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 26 Apr 2021 19:15 WIB
Tol laut menjadi upaya pemerintah untuk menjalankan pemerataan ekonomi Indonesia. Seperti apa sibuknya aktivitas kapal tol laut di Kepulauan Seribu? Lihat yuk.
Kapten Suarniati kisahkan perjuangan pimpin kapal/Foto: Dok. Zoom webinar bersama MTI
Jakarta -

Kapten Suarniati adalah salah satu sosok Kartini di dunia transportasi Indonesia. Suarniati merupakan salah satu dari segelintir perempuan yang menjadi pelaut Indonesia.

Suarniati menceritakan perjuangannya untuk bisa menjadi pelaut. Sebagai perempuan dia mengatakan dunia pelayaran merupakan dunia yang tidak ramah bagi perempuan, dia mengatakan diskriminasi gender masih sangat terasa bagi para pelaut wanita.

Wanita yang kini berkarir di perusahaan Samudera Indonesia ini mengatakan banyak perusahaan pelayaran sangat tidak menerima pelaut wanita dengan tangan terbuka.

"Diskrimanasi gender di transportasi laut sampai sekarang kita ini masih mengalami hal itu. Belum semua pengusaha pelayaran ini menerima kita dengan tangan terbuka," kisah Suarniati dalam webinar bersama MTI, Senin (26/4/2021).

"Negara kita punya banyak pejuang wanita, bahkan salah satunya itu pejuang emansipasi, kenapa kami pelaut wanita ini masih belum diakui," ujarnya.

Di masa awal dirinya baru lulus dari sekolah pelayaran, dia pernah ditolak berbagai kapal hanya untuk melakukan praktik laut (prala). Sebagai informasi untuk menjadi pelaut, seseorang harus melakukan prala selama setahun menjadi kadet dan berlayar.

"Saya tiap ikut tes itu nggak pernah nggak lulus, perusahaan manapun saya lulus. Cuma saat mau diberangkatkan, saya ditolak. Manajemen perusahaan itu menerima, tapi kapal nggak nerima perempuan, dia nggak mau ada wanita di kapal," kisah Suarniati.

Karir Suarniati pun berlanjut dan berhasil mendapatkan gelar Master Marine, dengan gelar itu dia bisa memimpin pelayaran sebuah kapal sebagai nakhoda. Bahkan, di saat pangkatnya sudah tinggi pun diskriminasi kembali terjadi padanya.

Dia mengatakan tak jarang banyak kru pelayaran laki-laki yang menolak dipimpin olehnya. Banyak orang yang mengatakan perempuan tak boleh memimpin kapal.

"Ada lho orang tuh melihat kita sebagai pimpinan kayak kita jadi imam sholat, haram. Ini saya sampai bilang, saya nggak pimpin kamu buat sholat, saya di sini pimpin orang buat jalankan kapal," kata Suarniati.

Dia pun mendorong agar perusahaan pelayaran mau melirik juga tenaga pelaut wanita. Menurutnya, dari pemerintah sudah memberikan dukungannya dengan mewajibkan perusahaan pelayaran harus mempekerjakan minimal 10% pelaut wanita sejak Oktober 2017. Saat ini sudah ada 24 ribu pelaut wanita yang dipekerjakan.

"Tapi tetap sangat sedikit perusahaan yang mau buka pintunya untuk pelaut wanita, padahal kebijakan sudah ada. Sangat sedikit perusahaan pelayaran besar yang mau membuka peluang untuk pelaut wanita," tutur Suarniarti.

(hal/hns)