Jangan Nekat! Travel Gelap Diawasi Ketat dari Medsos hingga Grup WA

Soraya Novika - detikFinance
Kamis, 29 Apr 2021 20:15 WIB
Polisi mengamankan 115 kendaraan yang digunakan untuk travel gelap. Kendaraan ini nekat membawa pemudik meski ada larangan mudik.
Foto: Agung Pambudhy: Nekat Bawa Pemudik, 115 Kendaraan Travel Gelap Diamankan Polisi
Jakarta -

Pemerintah memastikan mengawasi ketat dan menindak tegas travel gelap yang nekat bawa penumpang selama masa musim libur Lebaran, terutama pada periode larangan mudik Lebaran 6-17 Mei 2021.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi menjelaskan telah berkordinasi dengan Kakorlantas Polri dan Ditlantas Polda untuk mengawasi dan menindak moda transportasi tak resmi tersebut.

Ketiganya sepakat membentuk Patroli Cyber untuk mengawasi praktik travel gelap. Lantaran, menurut Budi transaksi jasa travel gelap kini lebih sering terjadi di media sosial.

"Masing-masing Polda sekarang sudah membentuk Patroli Cyber. Karena transaksi masyarakat dengan para operator ini (travel gelap) tidak hanya secara fisik saja, tapi sudah menggunakan media sosial seperti FB, WA grup dan sebagainya," ujar Budi dalam diskusi dengan media, Kamis (29/4/2021).

Penyedia jasa travel gelap yang terbukti menawarkan jasa bepergian atau tertangkap membawa penumpang selama masa larangan mudik berlangsung, akan ditilang dan kendaraannya akan di tahan sampai menunggu dijadwalkannya agenda sidang tilang. Tujuannya tentu untuk membuat jera para pelaku travel gelap tersebut.

"Kesepakatannya selain ditilang juga akan ditahan sampai menunggu hari sidang. Jadi kalau sidangnya satu minggu kemudian, yah satu minggu itu (kendaraan) di tahan di masing-masing Polda," katanya.

Budi mengungkap berdasarkan hasil penyelidikan selama dua hari terakhir tercatat ada lebih dari 110 kendaraan travel gelap yang berhasil ditangkap.

"Dua hari ini sudah ada lebih dari 110 kendaraan terindikasi travel gelap yang tertangkap dan sekarang di Polda Metro," kata Budi.

Menurut Budi tak jarang para travel gelap tersebut mematok tarif yang sangat tinggi untuk para penumpangnya di saat-saat seperti ini. Contoh kasus pada salah satu travel gelap yang tertangkap yaitu pada rute Jakarta-Surabaya, ungkap Budi, sampai ada yang mematok tarif Rp 750.000 per penumpang.

"Kalau ini dibiarkan, nanti akan merusak terhadap ekosistem, bagaimana ketergantungan masyarakat dalam menggunakan kendaraan umum. Karena dengan kendaraan seperti ini walaupun tarifnya lebih mahal tapi ada kemudahan dan hal lainnya," imbuhnya.

Tak hanya merusak ekosistem, yang paling berbahaya bila travel gelap dibiarkan adalah terkait penyebaran pandemi COVID-19. Padahal, pemerintah saat ini tengah berjuang menghentikan penyebaran wabah tersebut. Sebab, kerap kali travel gelap ini menampung penumpang lebih dari batasan yang sudah diatur atau kerap melanggar protokol kesehatan.

"Jadi berpotensi nantinya sampai di daerah kalau ada yang OTG (orang tanpa gejala) bisa kena (COVID-19) semuanya," tuturnya.

Di samping itu, travel gelap biasanya melanggar tata cara operasi kendaraan umum resmi yang biasanya punya asuransi bila terjadi kecelakaan.

"Kendaraan ini (travel gelap) bagi penumpangnya tidak di-cover Jasa Raharja, jadi kalau aada kecelakaan penumpang tidak ke-cover Jasa Raharja," imbuhnya.

(hns/hns)