e-Life

Cerdas Atur THR

dtv - detikFinance
Sabtu, 01 Mei 2021 15:28 WIB
Jakarta -

Tunjangan Hari Raya (THR) merupakan salah satu hal yang ditunggu-tunggu para pekerja menjelang hari raya. Selain berfungsi untuk menunjang pengeluaran menjelang hari raya seperti zakat dan mudik, dana THR juga bisa digunakan untuk menyenangkan diri sendiri dan keluarga.

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa alokasi pengeluaran THR juga tidak boleh sembarangan. Hal ini bisa disesuaikan dengan tiga kelompok pengeluaran utama: dana untuk kebutuhan saat ini, dana untuk keperluan tidak terduga, dan dana untuk masa depan.

"Prioritas yang pertama itu untuk makanan, listrik, internet. Terus, kita juga harus bayar hutang, kalau punya. Lalu, kita harus sisihkan dana untuk sesuatu yang sifatnya darurat. Baru yang terakhir, kita berinvestasi," kata Financial Planner Bareyn Mochaddin dalam program e-Life, Jumat (30/4/2021).

Agar lebih mudah dalam mengelola prioritas pengeluaran, dapat digunakan cara tradisional seperti menentukan mana kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Namun, ini akan terasa sulit apabila kita tidak memiliki rencana pengeluaran.

"Saya sangat mendukung teman-teman semua untuk membuat rencana pengeluaran. Tulis dulu aja apa yang dimau. Misalnya pingin tas LV, liburan ke Bali, termasuk bayar listrik dan lain sebagainya. Baru lakukan yang namanya budgeting, sesuaikan antara uang yang dimiliki dengan rencana teman-teman," jelas Bareyn.

Terkait THR, secara ideal THR merupakan dana yang tujuannya adalah untuk menunjang hal-hal yang hanya ada saat hari raya. Hal ini meliputi zakat fitrah, zakat mal, mudik, menjamu keluarga dan kerabat, serta menyisihkan dana untuk orang-orang yang membantu pekerjaan sehari-hari seperti asisten rumah tangga, satpam, dan lain-lain.

Selain itu, di Indonesia terdapat budaya untuk bagi-bagi THR ke keluarga, terutama kepada saudara yang masih kecil. Pengeluaran untuk keperluan ini juga perlu diatur sesuai dengan kemampuan finansial agar tidak terlalu memberatkan.

"Tipsnya saat ngasih THR ke bocah-bocah ini, bisa disesuaikan dengan jumlah puasanya. Misalnya dia puasa 15 hari, kita kalikan dengan dua ribu rupiah. Atau, sesuaikan dengan dia kelas berapa. Misalnya dia kelas 5 SD, kita kalikan dengan 10 ribu rupiah," terang Bareyn terkait trik menyisihkan THR untuk anggota keluarga sendiri.

Sedangkan untuk keluarga yang sudah berusia dewasa, Bareyn menyarankan untuk memberi kue atau bingkisan yang disesuaikan dengan budget.

Saat mendapat THR, biasanya muncul keinginan untuk memberi hadiah kepada diri sendiri. Hal ini tentu tidak salah, akan tetapi perlu diperhatikan pengeluarannya agar tujuannya tepat dan tidak malah merugikan.

"Kita perlu lakukan perjanjian dengan diri sendiri. Misalnya, kalau ingin menghadiahi diri dengan suatu barang, itu karena kita sudah mencapai sesuatu. Sehingga, kita bisa membatasi diri, tapi di sisi lain kita tidak pelit dengan diri sendiri karena kesehatan mental itu penting," jelas Bareyn.

Terkait hal ini, Bareyn juga menyampaikan bahwa dari total penghasilan yang didapat, memang perlu ada yang dialokasikan untuk kebutuhan hiburan. Besarannya adalah 5-10% dari pendapatan perbulan.

"Jangan terlalu memikirkan investasi. Investasi itu penting, kita harus menyisihkan 10% dari penghasilan bulanan kita. Tapi sisihkan juga untuk hiburan, sehingga kita bisa menyeimbangkan antara masa kini dan masa depan," tutur Bareyn.

Meski demikian, bagi yang tertarik untuk memasukkan uang THR untuk investasi, tentu ini adalah hal baik. Sejatinya, memang semua orang perlu berinvestasi. Akan tetapi, perlu ditentukan dulu tujuannya untuk apa, agar tidak salah memilih jenis investasi yang hendak dilakukan.

"Kita memang harus berinvestasi, karena kita bertarung dengan inflasi. Tapi, sebelum berinvestasi, kita harus punya tujuan keuangan dan jangka waktunya. Dengan ini, kita bisa tahu produk investasi mana yang mau kita pilih. Nggak perlu takut atau ikut-ikutan dengan apa yang sudah dilakukan orang-orang," jelas Bareyn.

(gah/gah)