India Ogah Lockdown, Takut Ekonomi Nyungsep

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 03 Mei 2021 09:53 WIB
Kasus COVID India Lampaui 18 Juta Orang, 29 di Antaranya Warga Negara Indonesia
Foto: ABC Australia
Jakarta -

Perdana Menteri India, Narendra Modi enggan menutup aktivitas perekonomian negaranya meski sedang mengalami lonjakan kasus COVID-19 (Corona). Hal itu dilakukan agar ekonomi negara itu tidak mengalami kehancuran seperti tahun lalu.

Dikutip dari CNN, Senin (3/5/2021) Sebelumnya India pernah melakukan lockdown untuk menekan kasus COVID-19, namun ekonominya mengalami kelumpuhan. Salah satu industri yang mengalami kehancuran, yakni industri kulit yang menjadi sektor pengekspor terbesar negara itu.

Ketua Dewan Ekspor Kulit India dari Kementerian Perdagangan & Industri India, Aqeel Panaruna mengatakan, akibat lockdown ekspor kulit India merosot 29,1% tahun lalu, dibandingkan 2019. Industri kulit telah kehilangan US$ 1,4 miliar dalam ekspor. Selain karena India lockdown, hal itu disebabkan pembeli dari AS, UE, dan Inggris menunda pembelian selama negara-negara itu lockdown juga.

Sebagai informasi, India adalah pengekspor kulit dan barang-barang kulit terbesar di dunia. Negara ini juga pengekspor pakaian kulit terbesar kedua dan pengekspor barang kulit terbesar keempat di dunia. India juga produsen utama alas kaki setelah China. India disebut telah memproduksi hampir tiga miliar pasang sepatu setiap tahun.

Seorang pakar industri, yang tidak ingin diidentifikasi namanya mengatakan produsen kulit India telah menderita akibat lockdown yang berlarut-larut tahun lalu. Dia khawatir gelombang kedua COVID-19 ini akan membuat industri kulit kembali menderita lagi.

Manajer Aenior dari produsen kulit, Indian Leather Manufacturer yang berbasis di New Delhi, Shashi Kashyap mengatakan tiga fasilitasnya mengalami krisis COVID-19 dan terpaksa ditutup. Dia mengatakan dirinya, ayah dan anggota keluarganya juga tengah terjangkit COVID-19.

Kashyap juga bercerita, pada 2020 pabriknya hanya dibuka 2 bulan saja dan tahun itu menjadi tahun yang menghancurkan bagi bisnis kulit. Bahkan, tahun lalu 50% pabrik perusahaan terpaksa tutup.

"Kami harus menemukan cara untuk membayar pekerja bahkan dalam penutupan ini karena jika tidak, kami tahu mereka tidak akan bisa bertahan. Jika bukan COVID-19, itu karena mereka tidak punya uang untuk hidup," katanya.

Simak Video: Corona di Dunia Tembus 152 Juta, AS Tertinggi Diikuti India

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2