3 Fakta Coworking Space Babak Belur Dihajar WFH

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 04 Mei 2021 05:00 WIB
Coworking space mencerminkan kantor gaya zaman now. Coworking space banyak ditemui di Jakarta, sejak maraknya usaha rintisan atau start up yang muncul.
Foto: Istimewa
Jakarta -

Pandemi COVID-19 memaksa orang untuk mengurangi bekerja di kantor. Kini, banyak perusahaan yang masih menerapkan kegiatan bekerja dari rumah alias work from home (WFH), bahkan ada yang menetapkannya sebagai kebijakan permanen.

Kebijakan itu ternyata berdampak pada kinerja coworking space. Berikut 3 dampak WFH terhadap coworking space:

1. Omzet Turun Drastis

Sekretaris Jenderal Asosiasi Coworking Space Indonesia Ellen Felencia Hutabarat mengatakan, WFH mengurangi permintaan akan sewa ruangan, sehingga banyak operator yang tutup sementara, hingga akhirnya omzet turun drastis.

"(Omzet) turun drastis jelas. Kalau melihatnya dari penyewaan ruangan, kan beberapa coworking space itu macam-macam lini bisnisnya. Ada yang punya private office dan tidak. Yang punya private office karena WFH, itu banyak yang tutup," kata Ellen kepada detikcom, Senin (3/5/2021).

Terutama untuk coworking space yang berlokasi di gedung perkantoran, dampaknya sangat terasa. "Untuk mereka yang sifatnya di gedung perkantoran itu drop-nya lumayan banyak," tutur Ellen.

Dihubungi terpisah, Director Servio Serviced Office Safana Ganis juga mengaku, omzet perusahaannya turun akibat pandemi yang menyebabkan orang bekerja di rumah. "Kalau penurunan omzet iya, mungkin 15-20% turun yang di Servio," papar Safana.

2. Tutup Cabang

Dihubungi terpisah, Senior Director of Office Services Department Colliers International Bagus Adikusumo mengatakan, saat ini sebagian besar operator coworking space sedang menyusun ulang model bisnisnya untuk memberikan penawaran baru kepada perusahaan-perusahaan yang membutuhkan kantor. Hal itu dilakukan karena permintaan akan sewa coworking space berkurang, seiringan dengan kebijakan WFH dan banyak startup yang berjatuhan.

"Jadi dengan WFH, startup companies banyak berguguran, sehingga perusahaan-perusahaan coworking space mulai melakukan evaluasi bisnis modelnya," kata Bagus.

Operator coworking space sendiri menyewa area kerja di gedung kepada pemilik gedung. Ketika permintaan berkurang, para operator kesulitan membayar sewa, dan akhirnya menyusun ulang model bisnis yang lebih mengacu pada pengurangan cabang.

Bagis mengatakan, ada beberapa operator coworking space yang menutup 30% dari total cabangnya, ada juga yang menutup hanya 5-10% dari total cabangnya.

"Ada coworking space yang terlalu agresif, sekarang banyak sekali dia mengurangi space-nya, mungkin sampai 30% ada mengurangi cabangnya. Tapi ada juga yang hanya 5-10%. Jadi beda-beda dari starting point mereka. Kalau starting point terlalu banyak (membuka cabang terlalu banyak), ya menguranginya juga banyak," papar Bagus.

3. Cari Alternatif Bisnis

Dengan permintaan sewa yang turun, operator coworking space harus mencari alternatif bisnis untuk memperoleh pemasukan, sehingga perusahaan tak bangkrut.

Ellen mengatakan, banyak coworking space yang kini menawarkan layanan sewa ruangan untuk studio podcast, studio foto untuk produk-produk UMKM, dan sebagainya.

Salah satu coworking space yang menjalankan alternatif bisnis itu adalah Kekini Ruang Bersama, tempat Ellen bekerja dan menjabat sebagai Managing Director.

Ia mengatakan, banyak operator coworking space yang menggunakan tabungan perusahaan untuk berinvestasi di lini bisnis lain demi memiliki alternatif pemasukan.

"Rata-rata semua coworking space income-nya turun, yang dilakukan sekarang bagaimana bisa survive. Jadi teman-teman coworking space misalnya yang sudah 3-4 tahun, yang sempat punya tabungan, ya tabungannya sekarang dipakai selama 1 tahun untuk support coworking space-nya bertahan. Fokusnya bertahan saja dulu selama pandemi agar tidak tutup, dengan pivot," papar Ellen.

Selain itu, di Kekini, Ellen mengatakan pihaknya menerapkan perjanjian dengan penyewa. Artinya, penyewa hanya bisa bekerja di tempatnya dengan melakukan reservasi. Hal ini dilakukan agar coworking space-nya itu bisa tetap buka dengan adanya protokol kesehatan yang diwajibkan pemerintah.

Tak hanya Ellen, Safana juga melakukan berbagai cara agar coworking space-nya bisa bertahan di tengah pandemi. Caranya memberikan paket sewa ruang kerja yang sesuai dengan permintaan klien, mulai dari biaya yang menyesuaikan anggaran klien, ruang kerja yang disesuaikan, dan sebagainya.

Selain itu, pihaknya juga menawarkan layanan virtual office. Dengan virtual office, pengusaha bisa menyewa alamat kantor dan nomor telepon tanpa perlu menyewa ruang kerja.

"Virtual office itu memang perusahaan bisa WFH. Tapi secara legalitas perusahaan itu beralamat di kantor kita.Jadi nanti semua dokumen bisa datang ke kantor kita, nanti kita yang handle kirim ke klien, atau klien yang ambil. Jadi orangnya nggak bekerja di tempat kita," imbuhnya.

Selain mendapat alamat kantor untuk legalitas, perusahaan juga bisa mendapat nomor telepon khusus alias dedicated number, dan juga ruangan meeting yang diperlukan sewaktu-waktu.

"Ada nomor dedicated, greetings menyesuaikan sama perusahaan itu, nomor dedicated. Kita juga ada tambahan free meeting room. Jadi walaupun nggak stand by di kantor kita, mereka kalau ada meeting atau mengundang klien, bisa pakai free meeting room," pungkas Safana.

(vdl/zlf)