Pemerintah Genjot Konsumsi Rumah Tangga Agar Ekonomi Q2-2021 Naik

Abu Ubaidillah - detikFinance
Senin, 10 Mei 2021 13:40 WIB
Airlangga Hartarto
Foto: Screenshoot/detikcom
Jakarta -

Pemerintah menargetkan ekonomi RI di kuartal II 2021 tumbuh 6,9%-7,8% year-on-year. Untuk mendorong pertumbuhan tersebut, Presiden Joko Widodo pun mengarahkan agar momen Ramadhan harus dimanfaatkan sebaik mungkin terutama dalam hal peningkatan konsumsi rumah tangga.

Sesuai arahan Presiden tersebut Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut pihaknya bersama kementerian/lembaga lain telah membuat berbagai kebijakan peningkatan daya beli masyarakat. Seperti pengaturan THR swasta dan ASN, percepatan Program Percepatan Perlindungan Sosial (Perlinsos), hingga bantuan beras Bulog selama Ramadhan untuk mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga.

"Terdapat pula program Kampanye Nasional Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) Bangga Buatan Indonesia (BBI) untuk produk lokal dalam negeri selama 5 hari menjelang Hari Raya Idul Fitri (H-10 s/d H-6) melalui Satuan Tugas Pemulihan Ekonomi Nasional (Satgas PEN) dan Kementerian Kominfo," terangnya dalam keterangan tertulis, Minggu (9/5/2021).

Airlangga juga menjelaskan di sisi lain pihaknya akan terus melanjutkan insentif relaksasi PPnBM, PPN properti/perumahan ditanggung pemerintah, dukungan bagi sektor hotel, restoran, dan kafe, relaksasi kebijakan restrukturisasi perbankan, perluasan penjaminan kredit korporasi, serta subsidi bunga untuk UMK baik KUR dan non-KUR.

Menurutnya momentum peningkatan konsumsi rumah tangga selama Ramadhan dan Idul Fitri merupakan salah satu faktor penting pengungkit pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2021. Ia menjelaskan realisasi program Perlinsos hingga 30 April 2021 telah mencapai Rp 49,07 triliun atau 32,7% dari Pagu Rp 150,28 triliun. Sementara untuk bantuan beras Bulog akan dilaksanakan pada Agustus-September kepada 10 juta keluarga penerima manfaat (KPM) yang masing-masing mendapat 15 kg/KPM dengan alokasi anggaran diperkirakan Rp 3,73 triliun.

Airlangga menyebut percepatan Perlinsos yang dipercepat dari Juni ke awal Mei berpotensi meningkatkan realisasi sekitar Rp 14,12 triliun. Sementara bantuan beras Bulog dapat memberikan andil menurunkan tingkat kemiskinan dan menjaga stabilitas harga beras dalam rangka menjaga nilai tukar petani (NTP).

Airlangga juga menjelaskan pentingnya pembayaran THR bagi pekerja swasta untuk mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2021. Untuk itu pemerintah melalui Menteri Ketenagakerjaan telah menerbitkan Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor nomor M/6/HK.04/IV/2021 tentang Pelaksanaan Pemberian THR Keagamaan Tahun 2021 bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan sehingga perusahaan wajib membayarkan THR paling lambat 7 hari sebelum Hari Raya Idul Fitri.

"Pencairan THR akan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 1%, karena dana THR (baik dari sektor tenaga kerja swasta/ASN/TNI/Polri) nilainya sekitar Rp 151,2 triliun (2% dari total konsumsi rumah tangga) sehingga peredaran uang di masyarakat akan meningkat. Hal ini diharapkan dapat mendorong konsumsi dan daya beli masyarakat di Bulan Ramadhan dan Idul Fitri," paparnya.

Untuk mendorong pembayaran THR ini pemerintah juga telah memberikan berbagai insentif. Di antaranya adalah stimulus permintaan untuk sektor-sektor yang dianggap memiliki multiplier effect tinggi, yakni sektor otomotif (PPnBM DTP) dan properti (PPn DTP dan DP Rp 0). Selain itu juga ada program penjaminan kredit korporasi yang diperluas melalui PMK-32 tahun 2021 sebagai dukungan peningkatan akses permodalan bagi dunia usaha.

Peningkatan konsumsi rumah tangga juga didorong melalui penyelenggaraan Hari Bangga Buatan Indonesia (BBI) pada 5-13 Mei 2021 di sekitar 72 platform e-commerce. Menurutnya berdasarkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan Indeks Penjualan Retail (IPR) yang dirilis Bank Indonesia, daya beli masyarakat menunjukkan sinyal pemulihan pada kuartal I 2021.

"IKK mengalami kenaikan dari 85,80 pada bulan Februari 2021 menjadi 93,40 pada Maret 2021; Indeks Penjualan Ritel mengalami perbaikan dari -18,1 bulan Februari 2021 menjadi -17,1 pada bulan Maret 2021. Sinyal pemulihan ini harus kita dorong supaya meningkat," lanjutnya.

Airlangga menjelaskan berdasarkan data transaksi hari belanja nasional terakhir yang diselenggarakan pada 12 Desember 2020, total penjualan mencapai Rp 11,6 triliun, 48% atau Rp 5,6 triliun di antaranya adalah penjualan produk lokal. Ia pun menilai kegiatan Hari BBI pada akhir Ramadhan bisa memicu peningkatan konsumsi masyarakat.

Menurutnya melalui Hari BBI diharapkan memberi kemudahan bagi masyarakat untuk membeli produk lokal berkualitas dengan harga terjangkau dan berbagai promo. Sementara untuk pelaku usaha, Hari BBI diharapkan bisa menggerakkan perekonomian khususnya bagi UKM yang memproduksi produk lokal dan perusahaan ekspedisi yang melayani pengiriman barang.

"Mengingat Hari BBI dikhususkan untuk mendorong konsumsi produk lokal, maka Hari BBI juga diharapkan dapat mengurangi impor barang konsumsi dan mengurangi tekanan defisit neraca berjalan sehingga stabilitas nilai tukar rupiah dapat terjaga," katanya.

Simak Video: Indonesia Masih Resesi! Ekonomi Kuartal I 2021 Minus 0,74%

[Gambas:Video 20detik]



(mul/mpr)