Soal Harga Cabai, Petani: Kalau di Atas Rp 70.000/Kg Nggak Masuk Akal!

Vadhia Lidyana - detikFinance
Senin, 10 Mei 2021 20:30 WIB
Harga cabai di Pasar Jembatan Lima, Jakarta Barat masih mahal, Kamis (16/1/2020). Di pasar ini harga cabai kriting dan cabai merah besar mencapai 80 ribu rupiah.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Harga cabai rawit merah kembali mengalami kenaikan pada H-3 Lebaran. Di sejumlah pasar di DKI Jakarta dan sekitarnya, harga cabai rawit merah tembus Rp 80.000/Kg.

Harga cabai rawit merah memang sempat naik di atas Rp 100.000/Kg pada pertengahan Maret 2021. Namun, memasuki bulan Puasa harganya berangsur turun, karena sudah ada panen raya.

Hari ini, Senin (10/5/2021), harga cabai di sejumlah pasar Jakarta seperti Pasar Koja Baru, Jembatan Merah, Petojo Ilir, Anyer Bahari, Pesanggrahan, dan Pasar Pramuka tembus Rp 80.000/Kg. Begitu juga di Pasar Rawalumbu, Bekasi.

Berdasarkan Informasi Pangan Jakarta, dilihat dari pergerakan harga harian, di pasar-pasar tersebut naiknya bisa mencapai Rp 10.000-30.000/Kg dalam satu hari, jika dibandingkan dengan harga Minggu, (9/5) kemarin.

Menurut Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia Tunov Mondro Atmodjo, apabila harga cabai rawit merah di atas Rp 70.000/Kg, maka harga tersebut tak masuk akal.

Pasalnya, harga rata-rata cabai rawit merah di tingkat petani terakhir masih Rp 50.000/Kg.

"Kalau konsumen menerima di atas Rp 70.000/Kg, itu sudah tidak manusiawi. Disparitas harga yang wajar antara di petani dan pedagang itu Rp 15.000/Kg. Kalau lebih dari itu sudah tidak manusiawi," kata Tunov kepada detikcom, Senin (10/5/2021).

Tunov mengatakan, pasokan cabai di petani pun masih cukup, bahkan sangat aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada Puasa-Lebaran 2021 ini.

"Untuk pasokan stabil. Karena sekarang hampir semua panen. Hanya saja saya tidak tahu kenapa ada kenaikan drastis," urainya.

Meski begitu, ia mengaku saat ini petani bisa mendulang keuntungan dengan kenaikan harga yang ada. Namun, perlu diingat yang mendapatkan untung adalah petani yang menanam dan sukses memanen. Di sisi lain, banyak petani cabai yang gagal panen, sehingga tak memperoleh untung besar ketika permintaan cabai sedang tinggi.

"Yang mendapat keuntungan adalah petani yg menanam. Kenapa? Karena harga tinggi itu tidak semua petani punya cabai. Ada dua faktor, yang satu harga tinggi karena gagal panen, dan itu kemarin banyak terjadi. Kedua, yang menanam sedikit, akhirnya produksinya sedikit, makanya harganya mahal. Nah petani yang mendapatkan keuntungan lebih, yang sukses panen," pungkas Tunov.

(vdl/dna)

Tag Terpopuler