Perhatian! Warung 'Jadul' Bisa Makin Ditinggal Kalau Lakukan Ini

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 20 Mei 2021 08:15 WIB
Agen BRI Link, Jusfri SZ Fangidae bersama istrinya melayani nasabah dan pembeli di warungnya di Baa, Rote, NTT, (22/8/2019). Keduanya menyatakan keuntungan yang diperoleh dari agen BRI Link sangat membantu usaha warung kelontong, rental PlayStation (PS) dan warung internet (warnet) yang digeluti.
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Keberadaan warung kelontong atau toko konvensional saat ini sudah sulit ditemui di pinggir jalan. Keberadaannya mulai tergusur seiring menjamurnya ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret, serta hadirnya toko online.

Meski sudah jarang terlihat, usaha warung kelontong masih bisa mendapatkan cuan atau untung gede. Hal itu diungkapkan oleh Helmika Manihuruk, selaku pengusaha warung kelontong di Medan.

Dia pun membagikan tips agar usaha warung kelontong dapat bersaing dengan ritel modern dan toko online, serta tetap mendapatkan cuan besar.

Tips yang pertama adalah mengubah konsep warung kelontong agar menjadi lebih modern. Mulai dari menerapkan sistem komputerisasi hingga tampilan dari warung itu sendiri. Misalnya, dia menggantikan rak kayu dengan rak yang biasa digunakan oleh ritel modern, menjaga kebersihan toko, hingga sistem penerangan toko.

"Jadi mulai dari mengubah konsep, membenahi sistem penerangan, apabila menggunakan AC silahkan, membersihkan toko, pelayanan yang lebih baik," katanya dalam acara d'Mentor: Bisnis Warung Bisa Untung Gede, Rabu (19/5/2021).

Dari sisi pelayanan, dikatakan Mika, warung kelontong juga harus mengikuti kebutuhan para pelanggannya. Dia mengaku menerapkan layanan pengisian pulsa, pembayaran listrik, tv kabel, hingga layanan keuangan seperti tarik tunai hingga pembayaran yang menggunakan uang elektronik.

"Jadi kita harus sediakan itu semua, karena sekarang memang zamannya seperti itu," ujarnya.

Sebagai pengusaha warung kelontong, Mika mengimbau agar pemilik warung kelontong lainnya agar tidak menjual produk yang masa kadaluarsanya sudah dekat, kemasannya yang rusak, serta tampilan barang yang berdebu.

Dia mengklaim hingga saat ini masih menerapkan strategi tersebut demi menjaga loyalitas para pelanggan dan mendapatkan cuan atau untung gede.

"Sering sekali toko kelontong ditinggalkan karena barang berdebu, karena kalau berdebu itu anggapan orang kalau kemasan berdebu dibilang expired. Jadi muka (tampilan warung) kita itu harus benar-benar rapi, kalau perlu dicek berkala, kalau sudah mulai lusuh kita harus cat," ungkapnya.

(hek/eds)