Erick Thohir Minta BUMN 'Si Unyil' Berhenti Bikin Film, Terus Ngapain?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 20 Mei 2021 19:35 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Menteri BUMN Erick Thohir sore ini melakukan nonton film bareng dengan beberapa sineas senior tanah air. Dalam nonton bareng film Tjoet Nja Dhien itu Erick sempat memaparkan beberapa hal yang akan dilakukan Kementerian BUMN untuk membantu industri film bangkit.

Yang pertama Erick ingin beberapa BUMN telekomunikasi lebih aktif menjadi agregator konten lokal. Dia meminta Telkom dan Telkomsel menjadi agregator film dan musik lokal.

"Kita ingin Telkom dan Telkomsel jadi agregator konten lokal, di dunia film, musik, dan lain-lain. Mungkin, dengan menyiarkan kontennya, membeli rights-nya, dan lainnya," ungkap Erick ditemui di Bioskop XXI Plaza Senayan, Kamis (20/5/2021).

Kemudian yang kedua, Erick ingin PT Perusahaan Film Negara alias PFN yang dahulu memproduksi beberapa film lokal tidak lagi ikut memproduksi film. Namun menjadi perusahaan pembiayaan film. PFN diketahui adalah produsen film Si Unyil.

"Kedua, kita minta PFN jangan jadi bersaing membuat film, tapi PFN justru kita mau jadikan lembaga pembiayaan film," ungkap Erick.

Namun, dia tidak menjelaskan rinci soal rencana ini. Erick hanya mengatakan saat ini wacana itu sedang dipelajari Kementerian BUMN. Salah satu yang jadi pertimbangan besar adalah resiko besar pembiayaan film.

"Tidak mudah, saat ini masih kita sedang pelajari. Sudah 7 bulan. Ini resikonya besar untuk buat film," ungkap Erick.

Sore ini, Erick sendiri nonton bareng film Tjoet Nja' Dhien yang dirilis tahun 1988. Film ini baru saja direstorasi di Belanda. Hal itu dilakukan Erick di XXI Plasa Senayan, Jakarta Selatan.

Film yang ditonton Erick Thohir dibesut oleh sutradara Eros Djarot dan dibintangi oleh Christine Hakim dan Slamet Rahardjo selaku pemeran utama. Tjoet Nja' Dhien menceritakan kisah perjuangan pejuang wanita asal Aceh di masa penjajahan Belanda.

Erick mengatakan film berlatar belakang sejarah harus lebih banyak diproduksi. Menurutnya bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.

"Saya ingin sekali tiap tahunnya Indonesia punya film perjuangan, terlepas dari film drama, action. Kalau tiap tahun ada film perjuangan seperti ini, sangat penting untuk generasi muda melihat. Bahwa bangsa besar itu, bangsa yang tahu sejarahnya, belajar dari sejarahnya," kata Erick.

(hal/zlf)