Pamit, Zhang Yiming Mundur Dari Bos TikTok

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 21 Mei 2021 09:10 WIB
Zhang Yiming
Foto: Dok. Reuters
Jakarta -

CEO dan salah satu pendiri induk TikTok, ByteDance, Zhang Yiming mengumumkan akan mundur dari jabatannya. Dalam sebuah surat kepada karyawan, ia mengatakan jabatannya akan digantikan sesama pendiri yakni Rubo Liang.

Seperti dikutip BBC, Jumat (21/5/2021), langkah itu dinilai sebagai guncangan terbesar raksasa teknologi China ini sejak diluncurkan hampir satu dekade lalu.

"Sebenarnya, saya kekurangan beberapa keterampilan yang membuat manajer ideal. Saya lebih tertarik menganalisis prinsip-prinsip organisasi dan pasar, dan memanfaatkan teori-teori ini untuk mengurangi pekerjaan manajemen, daripada benar-benar mengelola orang," tulis Zhang di pesan situs web perusahaan.

Peran terakhir Liang di ByteDance adalah kepala departemen sumber daya manusia.

Dalam surat tersebut juga disebutkan bahwa pergantian kepemimpinan akan berlangsung selama enam bulan ke depan untuk memastikan kelancaran transisi.

ByteDance dibentuk pada tahun 2012 berbasis di Beijing. Perusahaan ini menciptakan aplikasi yang sukses besar TikTok yang diperkirakan memiliki 700 juta pengguna aktif bulanan.

Selema masa kepresidenan Donald Trump, ByteDance terus -menerus diserang. TikTok dituduh mengancam keamanan nasional AS.Politisi dan pejabat menyuarakan keprihatinan tentang data pribadi pengguna yang diteruskan ke pemerintah China. Namun, TikTok membantah tuduhan itu.

Bulan lalu ByteDance yakni salah satu dari 13 platform online yang diminta oleh regulator China untuk mematuhi peraturan yang lebih ketat di divisi keuangan mereka, sebagai bagian dari dorongan yang lebih luas untuk mengendalikan perusahaan teknologi.

Selama bertahun-tahun, Beijing mengambil pendekatan lepas tangan untuk mendorong perusahaan teknologi tumbuh, tetapi pengawasan resmi terhadap platform telah meningkat karena mereka telah bercabang ke layanan keuangan.

"Platform internet telah memainkan peran penting dalam meningkatkan efisiensi layanan keuangan dan memperluas akses layanan keuangan ke lebih banyak orang," bunyi pernyataan People's Bank of China. .

"Pada saat yang sama, beberapa layanan keuangan berjalan tanpa izin, dan ada pelanggaran aturan serius di berbagai bidang seperti arbitrase regulasi, persaingan tidak sehat, dan merusak kepentingan konsumen," tambahnya.

(acd/eds)