Dukung Rebranding Cigading Port, Bamsoet: Demi Pemerataan Ekonomi

Abu Ubaidillah - detikFinance
Senin, 24 Mei 2021 17:29 WIB
MPR
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo mendukung rebranding Cigading Port menjadi Krakatau International Port (KIP). Diketahui, peresmian akan dilakukan PT Krakatau Bandar Samudera sebagai anak usaha PT Krakatau Steel dan pengelola KIP pada Juli 2021 mendatang.

Bamsoet juga mendorong pemerintah untuk memberi perhatian lebih terhadap keberadaan dan pengembangan KIP sebagai international hub port, sekaligus pelabuhan curah kering terbesar dan terdalam di Indonesia.

Ia menjelaskan KIP berlokasi pada golden area of Sunda Strait, terhubung dengan jalur 21st century maritime silk, garis komunikasi laur (sea lane of communication/Sloc), dan alur laut kepulauan Indonesia (ALKI). Keberadaannya sangat penting untuk mendukung program national logistic ecosystem (CLE) yang dicanangkan Presiden Jokowi melalui Instruksi Presiden Nomor 5/2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional.

"Layanan logistik yang lebih efektif serta efisien sangat penting demi percepatan dan pemerataan ekonomi bangsa," kata Bamsoet dalam keterangannya, Senin (24/5/2021).

Saat menerima direksi PT Krakatau Bandar Samudera, Bamsoet juga menjelaskan KIP merupakan aset dan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan perannya dalam perdagangan global. Khususnya dalam memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah sebagai penunjang ekspor.

"KIP yang memiliki 17 dermaga, yang juga terintegrasi dengan jasa logistik dan pergudangan terpadu atau integrated warehouse (IWH) terbesar se-Asia Tenggara. Memiliki teknologi bongkar muat dan sistem informasi baru dengan pelayanan front-end yang diintegrasikan oleh sistem informasi SAP 4 HANA and POCIS,"

Selain itu Bamsoet menerangkan KIP juga didukung implementasi internet of things (IoT) mutakhir. Dukungan tersebut dinilai mampu mengakomodir berbagai jenis kapal, mulai dari 10.000-20.000 DWT (super capesize vessel).

Menurutnya setelah adanya bagan pemisah alur laut, (Traffic Separation Scheme/TSS) yang diberlakukan di Selat Sunda dan Lombok menjadikan trafik akan meningkat. Sehingga, bisa menjadi jalur alternatif perdagangan Asia Barat dan Eropa yang selama ini bertumpu di Selat Malaka.

"Pada tahun lalu, selain melayani ekspor besi dan baja, pelabuhan tersebut juga melayani ekspor kargo mineral komoditas batubara, kokas, bijih besi, dan GGBFS (ground granulated blast furnace slag) ke China, India, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Vietnam. Serta diperkuat dengan 20 jalur domestik untuk pengiriman kargo mineral maupun pangan di seluruh wilayah Indonesia," pungkasnya.

(akn/hns)