RI Ekspor Briket Tempurung Kelapa ke Arab Saudi & Yordania

Inkana Putri - detikFinance
Selasa, 01 Jun 2021 12:02 WIB
Indonesia mengekspor briket tempurung kelapa ke Arab Saudi dan Yordania dari Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (31/5). Adapun ekspor sebanyak tiga kontainer dari CV Coconut Internasional Indonesia tersebut bernilai US$ 35.000 per kontainer.
Foto: Dok. Kemenkop
Jakarta -

Indonesia mengekspor briket tempurung kelapa ke Arab Saudi dan Yordania dari Makassar, Sulawesi Selatan, pada Senin (31/5) kemarin. Adapun ekspor sebanyak tiga kontainer dari CV Coconut Internasional Indonesia tersebut bernilai US$ 35.000 per kontainer.

Menurut Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki, ekspor briket itu perlu didukung karena merupakan salah satu potensi ekspor UMKM dan memiliki pasar di seluruh dunia.

"Ekspor briket ini harus didukung dari sisi pembiayaan dan pendampingan agar volumenya terus meningkat," ujar Teten dalam keterangan tertulis, Selasa (1/6/2021).

Teten mengatakan potensi ekspor UMKM sangat besar jika setiap daerah dapat fokus pada pengembangan produk-produk unggulan UMKM. Salah satunya seperti Sulawesi Selatan yang memiliki banyak produk unggulan mulai dari produk kelautan, pertanian, kopi dan kakao.

"Jika tiap daerah bisa melakukan identifikasi produk unggulan dan secara serius melakukan pendampingan bagi tiap UMKM, ekspor akan meningkat," papar Teten.

Kendati demikian, Teten menegaskan sinergi seluruh pihak mulai dari Himbara, Pemda, BUMN, dan Pemerintah Pusat juga diperlukan guna mendorong UMKM. Terlebih saat ini, ekspor UMKM masih 14% dari volume ekspor nasional dan ditargetkan mencapai 17% pada 2024.

Dalam hal ini, Teten menuturkan pihaknya juga terus mempersiapkan ekosistem yang mendukung UMKM go global. Adapun upaya tersebut dilakukan melalui pembinaan UMKM lewat pendampingan model inkubasi.

"Pendampingan dilakukan secara profesional mulai dari peningkatan produksi, kurasi sampai dapat sertifikasi yang dibutuhkan di negara tujuan ekspor," jelasnya.

Selain itu, Teten mendorong perbankan menyalurkan pembiayaan bagi UMKM dengan porsi lebih besar. Hal ini melihat penyaluran kredit dari perbankan kepada UMKM baru mencapai 19,8%.

Jumlah ini, kata dia, masih sangat rendah dari porsi kredit ideal 30% kepada UMKM. Oleh karena itu, ia berharap perbankan dapat mengubah pendekatan penyaluran kredit dari pendekatan aset ke cashflow.

"Bank harus berubah, untuk menyalurkan kredit jangan lagi hanya mengutamakan pendekatan aset lihat juga track record cashflow. Buat apa aset banyak kalau cashflow rendah," tegasnya.

Teten menginginkan agar tidak ada UMKM yang terganjal pembiayaan dalam peningkatan produksi dan ekspor. Sebab, pemerintah melalui kebijakan KUR terus menyalurkan kredit yang lebih besar kepada UMKM.

Di samping itu, kebijakan KUR bagi kredit mikro juga semakin dipermudah melalui peningkatan nilai kredit tanpa agunan dari Rp 50 juta menjadi Rp 100 juta. Bahkan nantinya, lewat KUR dapat menyalurkan kredit hingga Rp 20 miliar bagi UMKM. Ada juga Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) yang akan mendukung pembiayaan koperasi produksi.

Sementara itu, Pemilik CV Coconut Internasional Indonesia Asriani mengatakan permintaan ekspor briket ke Timur Tengah mencapai 10-20 kontainer per bulan. Namun, perusahaan hanya dapat memenuhi 3-5 kontainer per bulan karena terkendala modal kerja.

"Kami sebenarnya bisa meningkatkan produksi 5 kali lipat, kapasitas mesin bisa memproduksi hingga 2 kontainer per hari. Akan tetapi, kami belum bisa mewujudkannya karena modal usaha terbatas," ujar Asriani.

Soal bahan baku briket tempurung kelapa, Asriani mengatakan perusahaan mendapatkannya dari 15 kelompok tani yang beranggotakan 15 petani tiap kelompoknya.

Sebagai informasi, dalam pelepasan ekspor briket tempurung kelapa turut hadir Sekda Provinsi Sulawesi Selatan Abdul Hayat Gani, Dirut LPDB-KUMKM Supomo, dan perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara. Di kesempatan tersebut, Asriani juga menandatangani kerja sama pembiayaan dengan Bank Mandiri.

(akd/hns)