Fakta Penting Serangan Siber ke Pabrik Daging Terbesar di Dunia

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 03 Jun 2021 09:29 WIB
Lakukan Berbagai Serangan Siber, AS Ajukan 6 Perwira Intelijen Rusia ke Pengadilan
Foto: DW (News)

Pasokan Daging Terhambat?

Jika JBS kembali beroperasi secara normal pada hari Rabu, pelanggan daging JBS mungkin tidak perlu khawatir akan kekurangan daging.

"Sistem kami kembali online dan kami tidak menyia-nyiakan sumber daya apa pun untuk melawan ancaman ini," kata Andre Nogueira, CEO JBS USA.

Namun, untuk berjaga-jaga, Departemen Pertanian AS juga mengatakan telah berkoordinasi dengan pengolah daging di seluruh negeri.

Mereka mendorong pengolah daging kecil untuk mengakomodasi kapasitas tambahan agar biss membantu menjaga rantai pasokan tetap bergerak.

Apa Itu Ransomware yang Menyerang JBS?

Dalam serangan ransomware, peretas mencuri data organisasi dan mengunci komputernya. Korban harus membayar untuk mendapatkan kembali akses ke jaringan mereka dan mencegah pelepasan informasi sensitif.

Beberapa peretas ransomware canggih, seperti kelompok peretas Rusia Darkside dilaporkan sering menjual teknologi ransomware mereka. Kelompok ini akan mengambil potongan dari tebusan yang dibayarkan kepada pelanggan mereka untuk mencari keuntungan.

Para ahli umumnya mendorong korban ransomware untuk tidak membayar uang tebusan apa pun. Tetapi kemampuan perusahaan untuk kembali online tanpa membayar peretas mungkin bergantung pada apakah perusahaan telah melindungi cadangan datanya.

Dalam beberapa kasus, peretas dapat menghapus cadangan data target mereka sebelum mengunci filenya. Hal ini meninggalkan organisasi korban tanpa jalan lain selain membayar untuk mendapatkan datanya kembali

Serangan Siber Sejenis Pernah Terjadi di AS?

Serangan ransomware ke JBS terjadi beberapa minggu setelah serangan ransomware menargetkan Colonial Pipeline, sebuah perusahaan pipa bahan bakar terbesar di AS.

Hal itu memaksa penutupan selama enam hari dari pabrik-pabrik milik Colonial Pipeline. Serangan di bulan Mei itu mengakibatkan masyarakat kekurangan gas, dan memicu lonjakan harga dan kepanikan konsumen.

Mirip dengan JBS, sistem Colonial Pipeline terkena ransomware. Setelah sebuah perusahaan terkena ransomware, tindakan pertamanya biasanya adalah membuat sebagian besar atau semua sistemnya offline untuk mengisolasi akses peretas dan memastikan mereka tidak dapat pindah ke bagian lain dari jaringan.

Orang-orang yang diberi pengarahan tentang serangan di Colonial Pipeline mengatakan perusahaan menghentikan operasinya karena sistem penagihannya juga terganggu.

Perusahaan disebut khawatir mereka tidak akan dapat menentukan berapa banyak tagihan pelanggan untuk bahan bakar yang mereka terima. Namun kini, hal itu berhasil ditangani.



Simak Video "Muncul Penjual Daging Sapi Dadakan di Tasik, Harga Lebih Murah"
[Gambas:Video 20detik]

(hal/das)