Utang Pemerintah Capai Rp 6.527,29 Triliun, Masih Aman?

Trio Hamdani - detikFinance
Kamis, 03 Jun 2021 16:51 WIB
Petaka Utang-Piutang
Foto: Petaka Utang-Piutang (Mindra Purnomo/tim infografis detikcom)
Jakarta -

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan bahwa utang pemerintah sejauh ini dikelola sesuai koridor. Jumlah utang pemerintah sendiri sudah mencapai Rp 6.527,29 triliun atau 41,18% terhadap PDB per April 202.

Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo menjelaskan beberapa hal yang membuat pemerintah percaya diri terkait utang.

"Kenapa kita berani utang? karena kita punya ekspektasi dan kepercayaan bahwa di masa mendatang kita akan mendapatkan income dan bahkan lebih besar. Itu yang menjadi prinsip sebenarnya," kata dia dalam webinar Infobank, Kamis (3/6/2021).

Kedua, utang menjadi indikator bahwa Indonesia dipercaya, dalam hal ini dipercaya mampu melunasi pinjaman.

"Pemerintah itu utang, mendapatkan pinjaman bahkan obligasi kita diminati itu menunjukkan adanya trust kepada kondisi ekonomi kita dan ke depan akan sustain," sebut Yustinus.

Dia pun menjelaskan bahwa selama ini undang-undang membolehkan rasio utang mencapai 60% terhadap PDB. Tetapi pemerintah mampu untuk terus menjaga di bawah 30% sebenarnya. Hanya karena pandemi COVID-19 lah rasionya meningkat.

Pemerintah pun meyakini ketika nanti penerimaan pajak kembali optimal dan ekonomi tumbuh, rasio utang pasti akan turun.

"Kita optimistik dengan berbagai langkah yang sekarang disiapkan, perbaikan administrasi, regulasi, dan juga implementasi lapangan, kita optimistik penerimaan pajak akan meningkat. Apalagi kita sekarang juga punya PNBP yang tidak kalah potensial dibanding pajak," ujar Yustinus.

Dari sisi PNBP masih ada sektor-sektor yang dapat dioptimalkan, misalnya perikanan, kelautan, jasa, dan lain-lain sebagainya. Oleh karena itu, menurutnya tak perlu khawatir berlebihan terhadap utang. Sebab, yang penting itu dikelola secara hati-hati.

"Kabar baiknya kemarin global sukuk kita itu dilelang sesuai ekspektasi dengan yield yang lebih rendah dibanding periode sebelumnya. Artinya kan kita juga melakukan manajemen yang lebih baik supaya beban bunga tidak membebani kita, tapi kita negosiasikan, kita tekan seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi kita," tambahnya.

(toy/dna)