Tantangan RI Cetak Tenaga Kerja: Pendidikan hingga Asupan Gizi

Aulia Damayanti - detikFinance
Minggu, 06 Jun 2021 18:28 WIB
Quarantine Young asian woman wearing smart casual clothes work at home in living room using laptop and drinking hot coffee and croissant while city  lockdown for covid-19 corona virus pandemic.
Foto: Getty Images/iStockphoto/vichie81
Jakarta -

Peningkatan daya saing tenaga kerja RI jadi sorotan di tengah makin ketatnya persaingan saat ini. Banyak hal yang harus diperhatikan, bukan hanya pendidikan, tapi juga pola asuh sejak dini, hingga asupan gizi yang tak kalah penting.

Melalui asupan gizi yang baik, niscaya anak akan tumbuh menjadi tenaga kerja yang berkualitas, cerdas dan dapat bersaing dengan tenaga kerja dari negara.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2018 mencatat prevalensi masalah gizi kurang, malnutrisi dan stunting pada anak masih tinggi. Prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada anak balita di Indonesia mencapai 17,7%.

Pemerintah melalui Kemenkes sebelumnya telah merilis pedoman gizi seimbang dan kampanye "Isi Piringku" untuk menjadi acuan sajian sekali makan, yang di dalamnya terdapat beragam sumber gizi, salah satunya protein hewani yang bisa didapatkan dari beragam pangan hewani termasuk susu.

Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 mencatat rerata konsumsi susu di Indonesia hanya 16,27kg/kapita/tahun, di bawah negara ASEAN lainnya seperti Malaysia 36,2/kg/kapita/tahun, Myanmar 26,7kg/kapita/tahun & Thailand 22,2kg/kapita/tahun. Rendahnya konsumsi susu di Indonesia menjadi tantangan tersendiri untuk mengatasi kasus malnutrisi, yang tentunya berdampak pada kualitas generasi Indonesia di masa depan.

Plt. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Kartini Rustandi mendukung kebiasaan minum susu, termasuk bagi anak-anak. Menurutnya, hal itu merupakan suatu yang baik. Namun, dia juga menekankan pentingnya mengonsumsi makanan sesuai dengan pedoman gizi seimbang.

Menurutnya, setiap orang harus makan sesuai dengan pedoman gizi seimbang yang terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Sementara protein bisa dipenuhi dengan mengkonsumsi makanan hewani seperti susu, telur, ayam, ikan dan daging.

"Jadi memang kebutuhan gizi kita harus seimbang termasuk protein dan susu jadi salah satu bagian untuk orang yang bisa meminumnya. Sehingga, Kemenkes mendukung susu jadi salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan protein," kata Kartini.

Dia menambahkan, jika anak mengalami kekurangan protein, karbohidrat, lemak, vitamin, hingga mineral, maka dapat menyebabkan kurang gizi. Akibatnya, anak bisa mengalami kekerdilan, terganggu pertumbuhan dan perkembangannya.

Menanggapi hal tersebut, Ahli gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Saptawati Bardosono menyarankan pemerintah mengambil langkah konkret dalam upaya mendorong konsumsi susu di Indonesia. Menurutnya, tingkat konsumsi susu berkualitas masyarakat Indonesia saat ini masih tergolong rendah.

Dia menilai tingkat konsumsi susu bisa memengaruhi kualitas gizi sebuah generasi. Sebab, susu memiliki kandungan nutrisi yang lengkap. Baik zat gizi makro maupun mikro, serta pre dan probiotik. Saptawati menuturkan, susu dapat dimanfaatkan sebagai tambahan asupan nutrisi yang belum terpenuhi dari makanan utama.

"Memang menjadi asupan tambahan, namun maanfaatnya sangat baik bagi kesehatan. Bukan hanya sebagai vitamin untuk tulang, tetapi juga pencernaan dan kardiovaskular," tambahnya.

Selain itu, Saptawati menyarankan ada gerakan atau kampanye minum susu kepada masyarakat. "Selain kampanye harus ada ketersediaan produk susu yang terjangkau bagi semua. Bagusnya pemerintah memproduksi susu generik ya, supaya bisa murah," tegasnya.

Kampanye untuk meningkatkan konsumsi susu saat ini terus digalakkan. Sebelumnya, Deputi II Kementerian Koordinator Perekonomian Musdhalifah Machmud menekankan pentingnya konsumsi susu bagi seluruh lapisan masyarakat. Dia menekankan agar kampanye minum susu segar terus digalakkan. Menurutnya, pada perayaan Hari Susu Nusantara 2021 mendapat dukungan dari 3 Kementerian, yaitu Kementerian Pertanian, Kementerian Koordinator Perekonomian dan Kementerian Perdagangan.

"Kampanye minum susu ini untuk membangun semangat energi masa depan bangsa, dan terbukti didukung oleh 3 kementerian, yaitu Bapak Menteri Pertanian, Bapak Menko Perekonomian dan Bapak Menteri Perdagangan memberikan kampanye semangat minum susu sapi segar. Semoga ini bisa disebarkan ke masyarakat luas," paparnya

(dna/dna)