Harga Sepeda Merosot, Tren Gowes Memudar?

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 07 Jun 2021 14:36 WIB
Toko sepeda diburu masyarakat di tengah pandemi virus Corona (COVID-19. Masyarakat rela antre membeli sepeda.
Foto: Kartika Bagus
Jakarta -

Aktivitas bersepeda atau gowes sempat menjadi tren di awal pandemi COVID-19 merebak. Meski sempat menjadi tren, saat ini aktifitas bersepeda sedang mengalami penurunan.

Kondisi ini tercermin dari penjualan sepeda yang mulai surut dibanding tahun lalu. Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Sepeda Indonesia (Apsindo) Eko Wibowo Utomo mengungkap penjualan sepeda kini mulai surut dibanding tahun lalu.

Pada 2020 lalu, ekspektasi dari permintaan akan sepeda bisa mencapai 7-8 juta unit per tahun. Sementara pada tahun, ekspetasi akan permintaan sepeda ini paling mentok hanya 5 juta unit. Tentu permintaan yang merosot ini dapat memberikan pengaruh pada harga jual sepeda tahun ini.

"Kalau kita lihat di pasar, kan gini, ada upnormal price karena harga digoreng (di 2020), karena permintaan tinggi harga dinaikin. Tapi dari harga di importir maupun produsen plus minus itu antara 20-30%, kalau ada yang lebih dari itu, tadinya harganya tidak normal," ujar Eko kepada detikcom, Sabtu (5/6/2021).

Hal ini terjadi karena permintaan di masyarakat memang sedang lesu. "Demand masih tetap ada walaupun tidak sebesar sebelumnya," katanya.

Aktivitas masyarakat juga kini sudah mulai berjalan normal seperti sebelum pandemi. Selain itu, masyarakat juga semakin melek harga dan cenderung lebih memilih sepeda dengan harga terjangkau ketimbang yang di atasnya.

"Mulai daya beli masyarakat di bawah itu sudah mencari harga yang, ya udah price sensitif lah, lebih cari yang (murah). Contoh beberapa sepeda lipat yang tadinya harga Rp 4 juta lebih sekarang sudah menyesuaikan di Rp 2 juta malah ada yang Rp 2 juta ke bawah," terangnya.

Oversupply unit sepeda juga faktor lain yang membuat harga sepeda kian merosot. Tingginya permintaan akan sepeda pada 2020 lalu mendorong produsen memproduksi lebih banyak sepeda, namun belum semua terjual, akhirnya terjadi oversupply di produsen.

Ditambah lagi ada serbuan sepeda impor yang pada akhir 2020 lalu sempat tertahan tak bisa masuk ke Indonesia dan baru bisa masuk awal 2021 ini.

"Jadi masuk 2021 itu kan ada masa di mana stok barang yang tadinya tertahan di 2020 itu mulai masuk lagi di 2021 awal dan itu menyebabkan terjadinya oversupply di pasar," terangnya.



Simak Video "Pesepeda Indonesia Kian Banyak, Gimana Fasilitas Umum Pendukungnya?"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)