Mau Siapkan Dana Haji Tahun Depan Lewat Investasi? Ini Pilihannya

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 08 Jun 2021 09:43 WIB
Muslim pilgrims line up as they leave after they circle the Kaaba, the cubic building at the Grand Mosque, as they keep social destination to protect themselves against Coronavirus a ahead of the Hajj pilgrimage in the Muslim holy city of Mecca, Saudi Arabia, Wednesday, July 29, 2020. During the first rites of hajj, Muslims circle the Kaaba counter-clockwise seven times while reciting supplications to God, then walk between two hills where Ibrahims wife, Hagar, is believed to have run as she searched for water for her dying son before God brought forth a well that runs to this day. (AP Photo)
Ilustrasi/Foto: AP/STR
Jakarta -

Menunaikan ibadah haji menjadi dambaan umat muslim. Meski pemerintah Indonesia telah mengumumkan tidak akan memberangkatkan jemaah haji tahun ini, masih ada kesempatan di tahun berikutnya.

Bagi yang berniat menunaikan ibadah haji, siapkan dana haji dari sekarang untuk disetor tahun depan mengingat masa tunggu yang tidak bisa diprediksi. Dalam waktu satu tahun ini, kamu bisa menyiapkannya lewat instrumen investasi.

"Kalau misal saya akan mempersiapkan untuk persiapan dana haji tahun depan, boleh saja uang yang akan dipersiapkan (diinvestasikan). Misalnya uang untuk persiapan dana haji itu anggap Rp 50 juta, uang itu bisa diinvestasikan," kata Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi kepada detikcom, Selasa (8/6/2021).

Meski begitu, disarankan dana haji diinvestasikan di instrumen yang minim risiko, misalnya logam mulia, deposito, obligasi, hingga reksa dana berbasis pasar uang atau fixed income.

"Bisa saja dari Rp 50 juta dalam jangka waktu 5-10 tahun uangnya itu sudah berlipat-lipat. Bisa diinvestasikan di instrumen-instrumen yang risikonya sangat kecil dan kalau bisa obligasi-obligasi pemerintah," tuturnya.

Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho menilai masyarakat tidak perlu khawatir jika dana haji disimpan di instrumen investasi. Pasalnya jika uang tersebut dibutuhkan sewaktu-waktu, tidak sulit untuk dicairkan.

"Instrumen-instrumen tersebut secara resiko terbilang rendah sehingga tidak perlu terlalu khawatir uang kita akan menurun nilainya secara drastis. Bila dibutuhkan juga cenderung untuk gampang dicairkan atau dijual kembali kembali sewaktu-waktu," imbuhnya.

Meski begitu, minus dari instrumen investasi di atas adalah imbal hasil yang tidak terlalu tinggi sehingga untuk menabungnya perlu intensitas yang lebih sering dan berkelanjutan.

"Minusnya adalah karena tingkat resikonya yang rendah, maka potensi imbal hasilnya juga tidak terlalu tinggi," tandasnya.

(aid/ara)