Lingkaran Setan Pungli di Pelabuhan yang Mencekik Sopir Truk

Soraya Novika - detikFinance
Sabtu, 12 Jun 2021 14:50 WIB
Simpang JICT Jakarta Utara tanpa lampu lalu lintas atau traffc light.
Ilustrasi/Foto: Syahidah Izzata Sabiila/detikcom
Jakarta -

Anggota Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Daniel Bastian Tandjung mengungkapkan praktik pungli yang kerap terjadi di kawasan pelabuhan. Praktik pungli tidak hanya terjadi di satu titik saja, tapi nyaris di semua titik pemberhentian ada saja pungli.

Kalau menolak, truk biasanya dilempari batu oleh pelaku pungli tersebut.

"Semua titik dimintain uang, muter atau belok di jalan raya milik masyarakat aja wajib nyawer kalau tidak truk kena timpuk batu dan sebagainya," ujar Daniel kepada detikcom, Sabtu (12/6/2021).

Menurut Daniel, biasanya per kontainer dipalak sebesar Rp 50 ribu. Adapun titik-titik pungli biasanya terjadi mulai dari gate pelabuhan sampai proses timbangan.

"Sekitar Rp 50 ribu per kontainer, kasih orang gate, orang lapangan, orang alat, orang timbangan, semua minta duit," tambahnya.

Selain uang, praktik pungli juga menyasar pada harta benda lainnya. Ketua Umum Keamanan dan Keselamatan Indonesia (Kamselindo) (yang beranggotakan Pengusaha Truk), Kyatmaja Lookman membeberkan barang-barang apa saja yang paling sering dipalaki preman pungli di kawasan pelabuhan.

"Ada macam-macam, ada yang minta uang, Handphone, Aki truk, sama ban serep," ungkap Kyatmaja.

Kyatmaja juga membeberkan aksi pungli di JICT. Praktik pungli di kawasan ini juga dikenal dengan uang pelicin. Bila tak ada uang pelicin, maka pelayanan kepada truk logistik yang masuk dibuat lambat dari semestinya.

"Karena mereka pengin cepat, mereka kasih uang, uang tips, karena yang jadi issue itu ketika tidak ada uang pelicinnya itu dilama-lamain," ujar Kyatmaja kepada detikcom, Sabtu (12/6/2021).

Uang pelicin mulai dari pintu masuk pelabuhan. Setelah masuk pun ada lagi praktik serupa terjadi di titik-titik pemberhentian lainnya.

"Ketika kita masuk dimintai uang pelicin biar cepat dimuat," tuturnya.

(hns/hns)