Kisah Pengusaha Asal Bali Diterpa Pandemi, Tertolong Kredit Bank

Erika Dyah Fitriani - detikFinance
Minggu, 13 Jun 2021 20:30 WIB
BRI
Foto: dok. BRI
Jakarta -

Berawal dari ketertarikan pada pengolahan kayu, perempuan asal Pulau Dewata, Ni Ketut Bakati Anggareni sukses membawa kerajinan Bali dikenal di pasar dunia. Tak hanya itu, usaha kerajinan yang sudah berjalan 23 tahun ini juga berhasil membuka lapangan pekerjaan bagi kaum perempuan di Bali.

Perempuan yang akrab disapa Ayu ini telah mendirikan usaha kerajinan rumah tangga berbahan dasar kayu sejak 1997 lalu. Usaha yang ia beri nama "Bali Bakti Anggara" ini dimulai dengan modal awal hanya Rp 50 juta saja.

Ayu mengaku modal awal tersebut bersumber dari uang sendiri alias bukan pinjaman. Dengan modal tersebut, ia memproduksi berbagai varian produk mulai dari hiasan dinding, meja kerja, juga beberapa peralatan makan seperti mangkuk dan gelas kayu.

Ia mengaku produk-produk kerajinan kayunya sudah menembus pasar luar negeri, seperti Amerika Serikat, Eropa dan Asia.

"Sekitar 60% market kami di Amerika Serikat, 30% di Eropa dan sisanya di Asia termasuk pasar dalam negeri," kata Ayu dalam keterangan tertulis, Minggu (13/6/2021).

Aneka produk kerajinan tersebut ia jual mulai dari US$ 2,5 hingga US$ 100, atau berkisar Rp 35.600 hingga Rp 1,4 juta per produk. Ayu mengaku dalam kondisi normal, ia mampu mengekspor sebanyak 30-100 kontainer dan meraup omset hingga US$ 50 ribu atau setara Rp 710 juta per semester.

Perempuan berusia 49 tahun ini pun mengaku pernah mengalami masa sulit dalam menjalankan bisnisnya. Ia mengatakan di tahun 2012 usahanya terkena imbas perubahan tren di masyarakat, sebab selama ini kerajinan kayu yang dibuatnya hanya fokus pada kerajinan tradisional asli Bali yang banyak mengandung kreativitas ukiran. Menurutnya, tren di pasaran saat itu telah berubah dan ikut mempengaruhi usahanya.

"Kita sempat terlambat mengikuti tren tersebut. Kebetulan saat itu merupakan keuntungan bagi usaha saya, saya mendapat bantuan dari Pemerintah Belanda di mana mereka memiliki program untuk membina usaha kecil di negara berkembang, nah usaha saya terpilih," ungkapnya.

Ayu menyampaikan kesempatan itu dimanfaatkannya sebaik mungkin untuk belajar dan lebih mengasah lagi kreativitas. Ia berharap dengan hal itu usahanya bisa menghasilkan produk-produk kerajinan kayu yang kekinian mengikuti perkembangan zaman.

Berkat pembinaan dari Pemerintah Belanda selama setahun, ia mengaku usaha kerajinannya bisa normal kembali dan lebih berkembang hingga sekarang.

Tak hanya meraup untung saja, Ayu mengungkap bisnis skala UKM yang selama ini dijalankannya banyak mempekerjakan perempuan. Bukan tanpa alasan, Ayu mempekerjakan banyak perempuan sebab ia melihat di daerahnya yakni Kelurahan Abianbase, Gianyar, Bali, banyak perempuan yang sudah berkeluarga tetapi kesulitan mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu, ia pun memutuskan memberdayakan perempuan setempat khususnya dalam proses pengemasan.

Kendati demikian, Ayu mengaku pandemi COVID-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia telah memberi dampak signifikan pada usaha skala UMKM, termasuk juga usahanya 'Bali Bakti Anggara'. Akibat permintaan pasar yang lesu terdampak pandemi, ia pun melakukan sejumlah penyesuaian termasuk juga soal jumlah pekerja.

Adanya penyesuaian ini membuatnya hanya bisa mempekerjakan sekitar 23 orang saat ini. Adapun jumlah tersebut terdiri dari 12 orang pekerja perempuan di dalamnya.

Selain itu, ia juga harus menghadapi tantangan lain di masa pandemi terkait shipping buyer payment (sistem pembayaran dari pembeli). Menurutnya di masa pandemi COVID-19 seperti ini, masa tunggu menjadi lebih lama yakni sekitar 60 hari dari biasanya 30 hari.

Ia menilai kondisi ini mempengaruhi cash flow dan membuatnya membutuhkan tambahan modal usaha. Meski demikian, Ayu mengatakan bantuan dari BRI membuatnya mampu terlepas dari kendala tersebut dan bisa melanjutkan usahanya.

Nasabah BRI

Kendati telah menjadi nasabah lama dari tabungan BRI, Ayu mengaku baru memberanikan diri meminjam modal usaha ke BRI pada tahun 2002.

"Berkat bantuan dari BRI saya sangat terbantu, karena pengaruhnya ketika kita mendapat order dari buyer kemudian payment-nya harus menunggu lama, maka dengan bantuan modal dari BRI itu sangat membantu," tuturnya.

Ia menjelaskan baru berani mengajukan tambahan modal usaha kepada BRI ketika usahanya mulai berkembang dan mendapat pesanan lebih banyak. Setelah dapat order yang lebih, lanjut Ayu, ia mulai bekerja sama dengan BRI dengan melakukan pinjaman pertama pada 2002 sebesar Rp 300 juta.

Sementara itu, Pemimpin Cabang BRI Gianyar, Jimmy Fajriansyah mengungkapkan Ayu merupakan salah satu nasabah BRI yang lancar dalam mengangsur pinjaman serta memiliki kondisi keuangan stabil. Ia pun menilai usaha kerajinan kayu yang dimiliki Ayu termasuk salah satu UMKM yang mampu bertahan di masa pandemi.

"Beliau ini salah satu nasabah kami yang sudah lama, menjadi mitra kami sudah 20 tahun sejak pinjamannya kecil dan sekarang sudah meningkat terus. Pada masa pandemi ini beliau masih bisa bertahan dan menjalankan usahanya, kreativitas dan semangatnya sungguh luar biasa," ujar Jimmy.

Jimmy menerangkan, tak hanya menawarkan bantuan modal, pihaknya juga memberikan berbagai pelatihan kepada UMKM. Adapun materi yang diajarkan antara lain buyer matching, cara ekspor, dan marketing online.

Tidak hanya itu, kata Jimmy, BRI turut mendukung pengembangan usaha yakni mempertemukan dengan para buyer khususnya saat mengikuti UMKM Expo Tahun 2019. Ia mengatakan berkat kegigihan dan kreativitas Ayu, 'Bali Bakti Anggara' telah memiliki dua cabang tempat produksi yakni di Bali dan Jawa Timur.



Simak Video "Para Srikandi Tangguh di Perairan Demak"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/hns)