Menkop Ungkap Tantangan UMKM di Era Digital dan Strateginya

Nadhifa Sarah Amalia - detikFinance
Senin, 14 Jun 2021 19:10 WIB
shopee
Foto: shopee
Jakarta -

Sebagai salah satu penggerak ekonomi nasional, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) harus dapat beradaptasi dengan era digital. Walau begitu, terdapat beberapa tantangan untuk para UMKM memanfaatkan teknologi digital, terutama market place atau e-commerce.

Menteri Koperasi & UKM Republik Indonesia Teten Masduki menjelaskan, terdapat kenaikan UMKM yang sangat signifikan dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai wadah mereka berjualan.

"Selama pandemi COVID-19, ada kenaikan yang sangat luar biasa. Jumlah UMKM terhubung ke ekosistem digital selama 8 tahun sebelumnya sampai pandemi, baru 8 juta pelaku usaha yang sudah onboarding. Per Mei 2021, sudah 13,5 juta. Jadi, sekarang totalnya sudah 21%," ujar Teten, dalam acara Dialog KADIN dan Shopee Indonesia - UMKM Indonesia Menuju Pasar Global, Senin (14/6/2021).

Walau begitu, Teten menyampaikan terdapat beberapa tantangan untuk para UMKM melakukan digitalisasi produk. Tantangan pertama, yang juga tantangan utama, berasal dari literasi digital. Ditambah dengan jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang belum sanggup untuk beradaptasi dengan permintaan online yang membutuhkan tanggapan cepat. Padahal, kunci dari berjualan secara online adalah dengan respon yang cepat yang dibarengi dengan produksi barang yang cepat juga.

"Di mikro, ada problem dengan literasi digital. Ini sebenarnya bisa, sekarang pun, ada solusinya. Dibantu dengan reseller yang memiliki peran penting dalam membantu UMKM yang 'masih ada masalah literasi digital' atau dengan jumlah SDM mereka yang memang tidak sanggup untuk memproduksi sekaligus jualan online. Karena jualan online kan perlu reaksi cepat yang merespon permintaan konsumen," jelas Teten.

Tantangan atau isu yang kedua, lanjut Teten, berhubungan dengan market yang besar dan unicorn dengan skala nasional. Dengan begitu, tentu para UMKM harus menyiapkan kapasitas produksi yang memadai dan sesuai dengan standar dari dimana mereka memasarkan produk. Namun, sekarang sudah banyak platform lokal hingga daerah yang dapat meningkatkan penjualan UMKM.

"Tapi sekarang, muncul banyak platform lokal, daerah, bahkan memiliki penjualan sangat tinggi di media sosial. Saya berdialog dengan banyak teman-teman muda, kreatif, yang melakukan inovasi di aplikasi digital, banyak juga aplikasi-aplikasi digital membantu dari mulai payment system, logistic system, untuk UMKM yang jualan di media sosial. Bahkan, media sosial bisa jadi tahap atau fase antara sebelum mereka masuk e-commerce dengan market yang lebih besar," terang Teten.

Tantangan yang ketiga adalah mengenai kualitas produksi dan daya saing produk. Pasalnya, banyak UMKM yang memiliki produk berkualitas, namun kurang memperhatikan aspek-aspek lain selain produk mereka. Padahal, aspek-aspek tersebut penting jika mau memasarkan produk lokal ke ranah internasional.

"Meskipun saya meyakini banyak sekali produk UMKM yang bagus kualitasnya, tinggal diperbaiki packagingnya, brandingnya. Tapi keseluruhan, kita harus bicara bahwa kita bukan hanya di market dalam negeri, tapi kita harus siap masukin produk UMKM kita keluar (negeri), yang dalam catatan saya, penjualan ekspor untuk UMKM lewat e-commerce keluar masih rendah, baru 4,68% lah," ungkap Teten.

Oleh karena itu, Teten menyampaikan jika Ia akan mulai melakukan beberapa strategi. Yaitu dengan cara mempersiapkan produk-produk UMKM yang sekiranya dapat terhubung ke pasar global.

"Strategi kami sekarang, kami akan coba yang market demand nya ada, product nya ada, tapi belum terhubung karena ada faktor tadi. perlu ada agregasi product nya, karena kecil-kecil produksi UMKM nya. Terus ada yang perlu standarisasi product nya, ada yang dari aspek pembiayaan. Nah, saya kira kalau fokus kita menyiapkan produk-produk UMKM yang bisa terhubung ke pasar global," jelas Teten.

Sementara itu Direktur Shopee Indonesia Handhika Jahja mengungkapkan, Shopee sendiri telah berperan menjadi salah satu marketplace yang dipakai oleh banyak UMKM untuk menjual produk mereka. Kini, para konsumen dapat langsung membeli barang dari UMKM yang berasal dari daerah manapun tanpa harus berpikir jauh. Ditambah dengan biaya logistik yang ditekan, menjadi salah satu prioritas Shopee untuk memudahkan konsumen berbelanja.

shopee Direktur Shopee Indonesia Handhika Jahja Foto: shopee

Menurut Handhika proses pengiriman barang penting dilakukan agar pemasaran UMKM lebih murah. Dengan begitu, para UMKM dan konsumen tidak perlu mengeluarkan ongkos lebih untuk pengiriman barang.

"Ekosistem digital mesti jalan supaya UMKM nya bisa naik setara dengan digitalisasi juga naik. Transportasi dan logistik itu sangat penting. Dengan transportasi lebih bagus, supaya bisa lebih murah dan juga pemasaran bisa lebih murah. Jadi UMKM-UMKM itu bisa naik kelas, dan penjualan bisa lebih tinggi," jelas Handhika.

Ia menjelaskan Shopee sebagai sebuah marketplace sudah bekerja sama dengan banyak logistik demi menurunkan harga logistik. Walaupun barang tiba lebih lama, namun biaya yang dikeluarkan tidak banyak.

"Kita sebagai marketplace bisa bekerja sama dengan banyak logistik, untuk gimana kita bisa menurunkan harga logistik ini. Dimana kita bisa bekerja bareng-bareng untuk shipment, contohnya dari pesawat ke kapal, walaupun lebih lama tapi lebih murah," ungkap Handhika.

Kolaborasi dengan logistik maupun UMKM juga menjadi hal yang dilakukan oleh Shopee. Dengan begitu, mereka tidak perlu berjalan sendiri dalam melakukan penjualan dan menerima banyak bantuan dengan bantuan Shopee maupun perusahaan lain.

"Banyak pemain, banyak UMKM. Jadi kita bisa bikin ekonomi softskill ini berjalan dengan lebih baik, dengan cara menggabungkan atau berkolaborasi, supaya gak jalan sendiri-sendiri," pungkas Handhika.

Berdasarkan Katadata Insight Center (KIC), 82% UMKM menggunakan Shopee sebagai marketplace untuk memasarkan produk mereka. Dimana 57% diantaranya menilai jika Shopee telah menyumbang omzet atau nilai penjualan terbesar dibandingkan marketplace lain.

Selain Teten dan Handhika, terdapat beberapa narasumber dalam acara tersebut, yaitu Menteri Investasi Republik Indonesia / Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Menteri Perdagangan Republik Indonesia Muhammad Lutfi, serta Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Arsjad Rasjid.



Simak Video "Resmikan Kampus Khusus UMKM, Gibran: Agar Solo Naik Kelas"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/hns)