Erick Thohir Mau Lebih Banyak BUMN Masuk Fortune 500, Caranya?

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 15 Jun 2021 20:36 WIB
Hari ini vaksin tahap ke-14 kembali tiba di Indonesia. Sebanyak 8 juta bulk vaksin Sinovac mendarat di Bandara Soetta. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir yang menerima dan melihat langsung.
Foto: AmiriYandi/DJIKP-Kemkominfo
Jakarta -

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mendorong seperempat perusahaan pelat merah masuk daftar 500 besar perusahaan dunia versi majalah Fortune atau Fortune 500.

Erick mengatakan saat ini baru ada empat BUMN dan dua perusahaan swasta di Indonesia yang masuk dalam daftar Fortune 500.

"Kalau dibandingkan China yang jumlahnya puluhan, kita harus bisa targetkan paling tidak kita bisa seperempat dari perusahaan-perusahaan China yang masuk Fortune Global 500 atau Forbes Global 2000," katanya dalam webinar yang diselenggarakan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Selasa (15/6/2021).

Salah satu caranya adalah mendorong percepatan restrukturisasi perusahaan-perusahaan pelat merah. Hal ini ditujukan untuk memperkuat kondisi perusahaan secara fundamental sehingga siap dalam menghadapi kondisi ke depannya.

"Di tahun depan tantangannya masih terjadi karena itu kita push yang namanya restrukturisasi yang ada di BUMN bagaimana kita memperbaiki portofolio yang ada supaya kita bisa punya pondasi yang kuat," ucap Erick Thohir.

Dalam hal ini yang dimaksud Erick adalah restrukturisasi bisnis model BUMN. Direksi BUMN telah diminta untuk melakukan inovasi bisnis model untuk mengantisipasi perubahan kebiasaan masyarakat yang signifikan.

Contohnya klaster Himbara (Bank-bank Milik Negara) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang saat ini memiliki persaingan bisnis terbuka di pasar, baik dari swasta maupun perusahaan asing. Belajar dari itu, BUMN lainnya dinilai harus mampu seperti dua klaster itu yakni bersaing secara terbuka.

"Ini yang memang kita harus antisipasi karena itu kemarin kita tekankan kepada direksi, perubahan bisnis model ini adalah merupakan keharusan yang harus kita hadapi," imbuh Erick Thohir.

(ara/ara)