Mata-matai Karyawan, IKEA Didenda Rp 17 Miliar

Tim detikcom - detikFinance
Selasa, 15 Jun 2021 22:32 WIB
Corner view of the Ikea furniture store in Sunrise Florida near Fort Lauderdale on a mostly sunny Winter day. The image features the typical blue store with the yellow logo on its wall.
Ilustrasi IKEA/Foto: iStock
Jakarta -

Pengadilan Prancis (Selasa, 15/6/2021) memerintahkan IKEA membayar denda 1 juta euro (US$ 1,2 juta) atau sekitar Rp 17,3 miliar. Denda tersebut dijatuhkan lantaran IKEA memata-matai karyawan.

Pengadilan menyatakan IKEA bersalah karena mengumpulkan dan menyimpan data karyawannya secara tidak benar.

Mengutip CNBC.com, cabang di Prancis milik Ingka Group, perusahaan pemilik sebagian besar toko IKEA di dunia ini, dituduh mengintai para pekerja dan beberapa kliennya selama beberapa tahun. Selain itu dituduh melanggar privasi karyawan dengan meninjau catatan rekening bank mereka dan terkadang menggunakan karyawan palsu untuk menulis laporan tentang staf.

Perwakilan pekerja mengatakan informasi tersebut digunakan untuk menargetkan pemimpin serikat pekerja dalam beberapa kasus atau digunakan untuk keuntungan IKEA dalam perselisihan dengan pelanggan, setelah perusahaan menjaring data keuangan masyarakat dan bahkan mobil apa yang mereka kendarai.

Sebelumnya, Jaksa menuntut IKEA membayar denda 2 juta euro, tapi pengadilan akhirnya memutuskan 1 juta euro. Pengacara untuk serikat CGT Prancis dan beberapa individu yang mencari kompensasi mengatakan jumlah tersebut tidak besar, tetapi menyambut hasilnya.

"Simbolisme di sini yang penting," kata Solene Debarre, seorang pengacara yang mewakili CGT, dikutip dari CNBC.com, Selasa (15/6/2021).

Pihak Ingka mengatakan perusahaan sedang meninjau keputusan pengadilan untuk melihat apakah tindakan lebih lanjut diperlukan.

"IKEA Retail France mengecam keras praktik tersebut, meminta maaf dan menerapkan rencana aksi besar untuk mencegah hal ini terjadi lagi," kata pihak Ingka.

IKEA mempekerjakan sekitar 10.000 orang di Prancis, pasar terbesar ketiga setelah Jerman dan Amerika Serikat, dan telah bereksperimen dengan format baru di sana. Termasuk toko yang diluncurkan pada 2019 di jantung kota Paris.

Ini terkenal dengan toko swalayannya yang luas di luar kota tetapi banyak pembeli telah beralih ke online, terutama selama penguncian pandemi ketika permintaan untuk perabot kantor, toples makanan, dan produk memasak tumbuh dengan kuat.

(hns/hns)