Duh... Muatan IKEA dan Lenovo Masih Disita di Terusan Suez

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 16 Jun 2021 09:56 WIB
Potret Terusan Suez Jadi Primadona Kapal Eropa
Foto: Getty Images
Jakarta -

Kapal Ever Given memang tak lagi memblokade Terusan Suez. Namun dampaknya masih terasa hingga kini. Banyak perusahaan yang masih menanggung kerugian karena selama proses hukum berlangsung kapal yang terjebak muatannya disita selama berbulan-bulan.

Aada muatan milik IKEA dan Lenovo yang terjebak Ever Given. Kemudian perusahaan pembuat sepeda asal Inggris Pearson 1860 dan Snuggy UK juga mengalami gangguan distribusi.

Direktur Pearson 1860 Will Pearson mengharapkan tidak lagi terjadi penurunan harga saham karena insiden ini. Walaupun memang seluruh muatan sudah diasuransikan.

"Kami harap ada sedikit titik cerah untuk menyelesaikan masalah ini dan semoga tidak terjadi berbulan-bulan atau bertahun-tahun," jelas dia dikutip dari CNN Business, Rabu (16/6/2021).

Muatan di kapal mencapai US$ 100.000. Memang pengadilan Mesir menyita 18.300 kontainer kargo setelah Otoritas Terusan Suez mengajukan klaim kompensasi awal senilai US$ 916 juta terhadap pemilik kapal Shoei Kisen Kaisha atas kerugian yang terjadi karena tersangkutnya Ever Given ini.

Beberapa perusahaan yang menggunakan jasa Ever Given tidak mengetahui status kontainer mereka selama proses hukum berjalan.

Perwakilan IKEA menyampaikan jika banyak produk mereka yang berada di atas kapal. Namun mereka tak memberikan rincian lebih lanjut terkait daftar barang di pengiriman tersebut.

Juru bicara Lenovo menyebutkan jika saat in mereka sedang melakukan penjajakan untuk proses pengambilan barang. Namun banyak juga perusahaan kecil seperti Easy Equipment yang tidak memiliki asuransi laut untuk cold storage komersial senilai US$ 100.000. Seharusnya barang dikirim ke restoran sebelum pembatasan COVID-19 dilakukan pada Mei lalu.

"Kami tak hanya merugi dari pesanan ini. Tapi juga memengaruhi bisnis restoran yang mereka mengharapkan bisa membuka kembali setelah lockdown selesai. Kita terjebak dan saya tahu harus tetap membayar tagihan," jelas CEO EasyEquipment Michael Shah.

(kil/fdl)