Moeldoko Ungkap 2 Fenomena yang Jadi Titik Bangkit Pertanian RI

Jihaan Khoirunnisaa - detikFinance
Rabu, 16 Jun 2021 19:40 WIB
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko dituding hendak mengambil alih Partai Demokrat dan menjadi capres di Pemilu 2024. Moeldoko menjawab isu itu.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Jenderal (Pur) Moeldoko menegaskan sektor pertanian merupakan kekuatan utama sekaligus benteng negara dalam menghadapi pandemi COVID-19. Oleh karena itu, pihaknya siap bekerja sama membantu petani dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi.

Moeldoko menyebut saat ini terdapat 2 fenomena yang dinilai menjadi titik bangkit sektor pertanian RI. Pertama, banyaknya masyarakat yang sebelumnya bekerja di kota kini kembali ke desa. Mereka mulai bertani dan bercocok tanam sebagai salah satu mata pencaharian.

"Berikutnya ada fenomena produk hortikultura yaitu bunga bungaan yang memiliki nilai jual tinggi, di mana hampir setiap rumah memelihara bunga bunga. Ini maknanya apa, bahwa ada peluang untuk bertani. Jadi menurut saya pertanian dalam konteks pandemi ini cukup bertahan dengan baik," kata Moeldoko dalam keterangan tertulis, Rabu (16/6/2021).

Dalam acara bertajuk Jaya Suprana Show yang digelar secara online pada Selasa (15/6), dia meyakinkan menjadi petani adalah jalan pasti untuk menambah pundi-pundi ekonomi. Apalagi saat ini pemerintah sudah mendorong teknologi dan mekanisasi.

"Saya ingin mengubah cara berpikir masyarakat bahwa petani itu bertanam bukan hanya untuk hidup, tapi untuk mata pencaharian. Dan menjadi petani itu bisa kaya, bisa sukses. Untuk itulah, doktrin saya selama ini adalah memberi cara pandang bahwa agriculture atau budaya bertani itu harus menerima perubahan, yakni menggunakan teknologi dan mekanisasi. Jadi jangan alergi menerima perubahan-perubahan itu," jelasnya.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis nilai ekspor hasil pertanian selama periode Januari-Mei 2021 yang mengalami kenaikan tinggi sebesar 13,39%. Peningkatan ini terjadi karena naiknya permintaan terhadap subsektor tanaman obat, sarang burung walet dan produk olahan lainnya seperti rempah dan kopi. Dengan hasil tersebut, maka sektor pertanian secara kumulatif menyumbang kenaikan tinggi terhadap industri pengolahan, yakni sebesar 30,53%.

Adapun ekspor nonmigas secara keseluruhan yang dihitung pada Mei 2021 mencapai 94,36%. Demikian juga dengan ekspor pertanian yang dihitung secara tahunan (YoY) mengalami kenaikan sebesar 0,69%, dengan produk tanaman obat aromatik dan rempah menjadi penyumbang terbesarnya.

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri menilai capaian tersebut merupakan hasil kerja keras para petani dan berbagai pihak yang mendukung jalannya proses pembangunan pertanian nasional. Untuk itu, pemerintah melalui Kementan akan terus menggenjot peningkatan produksi dan kesejahteraan petani. Selain itu, peningkatan nilai ekspor pertanian juga didorong melalui Gerakan Tiga Kali Ekspor (Geratieks), yang digagas Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo.

"Gerakan itu merupakan gerakan yang akan mengakomodir semua pemangku kepentingan untuk meningkatkan ekspor produk pertanian. Tentu kita berharap ke depan, ekspor pertanian semakin lebih baik lagi," ungkapnya.

(akn/hns)