Kisah UMKM Kuliner di Perbatasan, Berkembang Berkat Digitalisasi

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Jumat, 18 Jun 2021 09:15 WIB
Mitra UMKM Grab
Foto: dok. Istimewa
Tarakan -

Kehadiran platform digital kini membuat masyarakat di kota kecil seperti Tarakan, Kalimantan Utara berani memulai bisnis. Jika dahulu mereka bingung harus bekerja apa, kini mereka berani merintis usaha hingga mampu memberdayakan masyarakat lokal dengan bisnisnya.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) kuliner Nasi Kota-KU dan Smile Food. Keduanya memanfaatkan layanan digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas dengan bergabung menjadi mitra GrabFood hingga meraup cuan gede. Begini kisahnya.

Nasi Kota-KU

Berdiri pada 2018, Nasi Kota-KU dirintis pria asal Malang, Abimanyu Prakarsa (32) karena faktor kepepet. Saat itu, tuntutan ekonomi pasca menikah membuatnya harus ekstra mendapatkan penghasilan demi menghidupi keluarganya.

"Pertama kali buka 2018 di bulan Maret, berjalannya juga karena faktor kepepet, karena saya waktu itu nikah tahun 2015 dan langsung mutusin pindah, karena istri kerjanya di Tarakan, jadi saya harus pindah juga ke sini," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Mitra UMKM GrabOwner Nasi Kota-KU Abimanyu Prakarsa Foto: dok. Istimewa



Sebelum memulai bisnis kuliner Nasi Kota-KU ini, Abim mengumpulkan modal dengan bergabung menjadi mitra pengemudi. Usai uang yang dikumpulkan dirasa cukup, ia pun mulai membangun usaha Nasi Kotaku dengan menu andalannya Nasi Katsu hingga Ikan Cakalang.

Meski tidak memiliki keahlian khusus memasak, hal itu tidak menyurutkannya untuk memulai bisnis. Ia mencoba mengakalinya dengan belajar melalui YouTube seputar cara memasak. Pada akhirnya ia bergabung dengan Rumah BUMN untuk mendapatkan pelatihan dalam menjalankan bisnisnya ini.

"Tantangannya itu buka usaha di sini dari cara promosi. Promosi di sini itu tidak seperti kota-kota lain yang kita bisa lewat medsos seperti Instagram. Kalau di sini masih yang masyarakatnya pakai Facebook dengan forum-forum gitu," jelasnya.

Beruntung, kata dia, Grab saat itu baru hadir di Tarakan. Ia pun langsung menjadi mitra GrabFood. Pada 2018-2019, produk olahannya difokuskan hanya untuk penjualan secara online. Namun saat 2020 atau tepatnya di tengah pandemi, Abim memberanikan diri membuka outlet secara offline di Tarakan.

"Setelah buka store offline ini penjualan saya juga lebih meningkat apalagi kalau digabungkan dengan GrabFood, jadi lebih menarik konsumen," ungkapnya.

Hal ini pun terbukti mendongkrak bisnisnya, tercatat hingga awal 2021, Abim sudah mampu membuka total tiga outlet di Kota Tarakan. Adapun omzet yang didapat dari menu Nasi Kota-KU yang dipatok harga Rp 15.000 hingga Rp 40.000 per porsi itu cukup menggiurkan.

"Omzet ya mungkin belasan (per hari), kalau per bulan bisa puluhan. Per hari bisa habis 100 lebih porsi (weekdays) weekend bisa lebih," bebernya.

Smile Food

Sementara itu, Smile Food merupakan bisnis kedua yang ditekuni Rosliana setelah sukses berbisnis fesyen dengan bendera Liena Boutique Smile di Kota Tarakan. Berdiri pada tahun 2018, Smile Food menjual aneka makanan dessert atau homemade yang belum populer di Tarakan seperti salad buah, asinan hingga Mango Sticky Rice.

Rosliana menyadari bahwa bisnis fesyen yang ditekuninya selama ini di Tarakan trennya tidak akan selalu naik, sehingga ia melebarkan sayapnya dengan merambah usaha kuliner. Hal ini juga sekaligus menyalurkan hobinya saat bepergian untuk membeli stok pakaian untuk butiknya. Pasalnya ia suka mencicipi makanan di berbagai kota dan negara.

"Jadi awalnya itu kan saya suka berangkat ke Bangkok, jadi memang ngambil fesyennya di Jakarta, Bangkok dan saya itu hobi banget makan mango sticky rice-nya, akhirnya saya buat pertama mango sticky rice, karena di sini belum ada, jadi saya ngikutin santannya, tapi dibedain lebih ngikutin lidahnya orang indonesia, eh orang pada suka," kata Liena sapaan akrabnya.

Mitra UMKM GrabMitra UMKM Grab Foto: dok. Istimewa

Dia pun memanfaatkan peluang itu dengan membuat makanan serupa untuk dijual di Indonesia. Bermodalkan puluhan ribu followers Instagram miliknya untuk promosi dan bantuan layanan on-demand Grab, kala itu dia bisa menjual 200 paket Mango Sticky Rice per hari. Adapun satu paket tersebut dipatok puluhan ribu.

Setelah Mango Sticky Rice viral di Tarakan, kata dia, ia turut membuat menu lainnya seperti Asinan Bangkok hingga Salad Buah. Hal itu dilakukannya supaya pelanggannya tidak bosan, sekaligus untuk menyiasati saat buah mangga sebagai bahan baku Mango Sticky Rice sedang tidak musim.

"Dulu awalnya saya menjual satu menu bisa sampai 300-500 porsi sebelum pandemi. Selanjutnya, menu-menu yang dulu viral tetap saya sediakan, tapi porsinya udah gak banyak. Nah, supaya tetap bertahan di 300-500 jadi saya buat beberapa menu yang banyak, tapi porsinya sedikit. Misalnya, salad buah 100 box sehari, asinan 50-70 jadi total-total sudah ratusan juga sehari gitu," ungkapnya.

"Dalam sehari omzet hitungan persen ya, sehari bisa sampai 80-90% atau di atas Rp 5 juta lebih untuk kuliner aja ya, karena ini mulai dari Rp 25 ribu, Rp 30 ribu, Rp 45 ribu," jelasnya. Jika dikalkulasikan omzet per bulan nya bisa sampai Rp 150 juta.

Sementara itu, Manager Enterprise, Government, Business, Rumah BUMN Tarakan, Yayan Nuryana mengatakan sebagai tempat transit, potensi UMKM di Kota Tarakan memang sangat besar. Apalagi jika UMKM tersebut memanfaatkan digitalisasi untuk berbisnis.

"Karena pendatang itu sebagai demand customer dia kan untuk bisa membeli ke UMKM-UMKM tadi, jadi kalau si calon pembeli itu udah melek digital, dan si UMKM nya juga melek, maka disitu akan match," ungkapnya.



Simak Video "Biar Bisnis Kamu Tak Tertinggal Saat Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/ega)