Cerita Perajin Batik Tasikmalaya Raup Omzet Rp 60 Jutaan/Bulan

Yudistira Imandiar - detikFinance
Sabtu, 19 Jun 2021 11:53 WIB
Cerita Pengrajin Batik Tasikmalaya Raup Omzet Rp 60 Jutaan/Bulan
Foto: Dok. Pertamina
Jakarta -

Tasikmalaya, Jawa Barat merupakan salah satu daerah penghasil batik dengan corak khasnya yang unik, seperti corak merak ngibing atau merak menari. Salah satu perajin batik tersebut adalah Aisha Nadia, ia meneruskan usaha batik orang tuanya yang telah berdiri sejak tahun 1987 bernama 'Dimas Batik'.

Dia mengatakan pada tahun 2019, bersamaan dengan peresmian Kampung Batik Bright Gas Tasikmalaya, ia bergabung menjadi mitra binaan Pertamina. Aisha pun mengaku pinjaman modal yang ia dapatkan membantunya mengembangkan usaha.

"Setelah bergabung menjadi mitra binaan Pertamina, Dimas Batik berkembang pesat. Di tahun 2019 omzet meningkat hingga Rp 40 juta per bulan. Kemudian saat mulai pandemi di tahun 2020 memang sempat turun drastis. Namun berkat pelatihan dan pendampingan yang diberikan Pertamina, kami jadi lebih semangat berinovasi. Alhamdulillah tahun ini omzet kami berhasil meningkat kembali hingga mencapai Rp 60 juta per bulan," papar Aisha dalam keterangan tertulis, Sabtu (19/6/2021).

Usaha milik Aisha memiliki keunikan tersendiri, yakni memproduksi batik dengan kain batik tulis bukan dengan batik cetak. Ia memberdayakan 17 orang warga sekitar tempat tinggalnya untuk memproduksi produk batiknya. Tidak selalu harus bekerja dari rumah produksi, Aisha menjelaskan para perajin di Dimas Batik dapat melakukan pekerjaannya dari rumah masing-masing.

"Saya ingin usaha saya memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar saya. Sehingga mereka juga ikut berdaya, punya kemampuan membatik, dapat menafkahi keluarganya, dan turut berkontribusi melestarikan keunikan corak batik khas Tasikmalaya," ujar Aisha.

Sementara itu, Pjs. Unit Manager Communication, Relations & CSR Pemasaran Regional Jawa Bagian Barat Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan saat ini di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya terdapat ratusan UKM yang telah bergabung menjadi mitra binaan Pertamina. Tidak hanya dari industri kreatif, UKM tersebut juga berasal dari sektor perdagangan, peternakan, serta perikanan.

"Melalui Program Kemitraan, Pertamina terus berupaya menggerakkan ekonomi masyarakat melalui pembinaan usaha kecil menengah, agar dapat berkembang dan mandiri. Serta turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals poin 8 yaitu menyediakan pekerjaan yang layak dan mendukung pertumbuhan ekonomi," urai Fahrougi.

Ia menambahkan UKM yang telah tergabung sebagai mitra binaan Pertamina tidak hanya diberikan bantuan modal untuk mengembangkan usaha. Namun juga berbagai pelatihan, pendampingan, dan akses untuk berpartisipasi dalam pameran berskala nasional maupun internasional.

"Salah satu pelatihan dan pendampingan bagi UKM yang kami lakukan, khususnya di masa pandemi seperti ini, adalah pelatihan UKM untuk go digital. Seperti contohnya Dimas Batik, kini juga memasarkan produknya lewat Instagram @dimasbatik_," pungkas Fahrougi.

Sebagai informasi, PT Pertamina Persero melihat keunikan produk batik dari Tasikmalaya dapat menjadi penggerak ekonomi bagi masyarakat. Oleh sebab itu, Pertamina melalui Pemasaran Regional Jawa Bagian Barat terus mendorong mitra binaan pengrajin batik di Kampung Batik Bright Gas Tasikmalaya untuk naik kelas dan mandiri, serta untuk tetap produktif di masa pandemi.

Adapun Kampung Batik Bright Gas Tasikmalaya merupakan sinergi antara Pertamina dengan Pemerintah Kota Tasikmalaya untuk mengembangkan produk unggulan daerah Tasikmalaya. Sentra batik yang diresmikan tahun 2019 ini berlokasi di Kampung Ciroyom dan Cigeureung, Nagarasari, Kecamatan Cipedes.



Simak Video "Bangganya Melihat Batik Indonesia Mejeng di Takashimaya Tokyo"
[Gambas:Video 20detik]
(akd/ega)