Capek! Begini Susahnya Jadi Pekerja Gudang Toko Online Selama Pandemi

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 22 Jun 2021 11:04 WIB
Jelang hari belanja online nasional (Harbolnas) yang jatuh pada Sabtu (12/12) besok, sejumlah e-commerce terlihat sibuk luar biasa. Penasaran?
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Dalam 16 bulan terakhir, para pekerja gudang toko online Amazon telah menghadapi tekanan kerja yang sangat berat. Hal ini dikarenakan adanya lonjakan tingkat permintaan barang online dari masyarakat selama pandemi.

Melansir dari CNN, Selasa (22/6/2021), kondisi ini diperburuk karena para pekerja harus menanggung stres untuk memenuhi lonjakan pesanan yang sangat besar dari event belanja musim panas yang diadakan oleh mulai Senin (21/6) kemarin Amazon. Beberapa karyawan penuh waktu yang bekerja di gudang Amazon (AMZN) mengatakan kepada CNN Business bahwa mereka harus bekerja minimal 55 jam dalam minggu ini karena jadwal shift 10 jam reguler mereka wajib diperpanjang menjadi 11 jam.

Selain itu para pekerja gudang juga mendapat shif tambahan satu hari kerja yang akan ditempelkan ke jadwal mereka. Menurut karyawan Amazon, hal ini dilakukan untuk membantu memenuhi membanjirnya penjualan yang didorong oleh Prime Day (event yang dilaksanakan Amazon).

"Ketika saya memikirkan Amazon Prime Day, saya memikirkan lembur wajib," kata Tyler Hamilton, salah seorang pekerja Amazon di fasilitas Shakopee, Minnesota, Amerika Serikat.

"Untuk pelanggan, mungkin ini Prime Day. (tapi) bagi kami, setidaknya Prime Week," tambahnya.

Namun menurut para pekerja, lembur bukanlah sesuatu yang langka ditemui selama pandemi karena Amazon terkadang membutuhkan waktu tambahan wajib, serta menawarkan waktu tambahan sukarela guna memenuhi lonjakan pesanan barang online.

Meski demikian Amazon mengatakan bahwa para pekerja gudang tersebut akan mendapatkan uang lembur atas tambahan waktu kerja mereka. Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Amazon Kelly Nantel mengatakan kepada CNN Business bahwa lembur merupakan hal yang tidak terhindarkan, dan karenanya mereka selalu berusaha untuk memberikan kompensasi yang sesuai kepada para pekerja.

"Bahkan dengan perencanaan yang matang, sebagai organisasi yang memiliki fluktuasi musiman atas permintaan pelanggan, lembur terkadang diperlukan dan ketika itu terjadi, kami memastikan bahwa semua karyawan diberi kompensasi yang adil," jelas Nantel.

"Kami juga memiliki proses sehingga karyawan yang tidak dapat bekerja lembur karena alasan pribadi dapat berbicara dengan manajer dan memetakan jadwal yang sesuai untuk mereka," tambah Nantel.

(eds/eds)