Anies 'Dicolek' BPK soal Penanganan Banjir: Reaktif dan Belum Jelas

Tim detikcom - detikFinance
Rabu, 23 Jun 2021 15:46 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan
Foto: ANDHIKA PRASETIA/detikcom
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan 'dicolek' Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) soal upaya penanganan banjir di Jakarta. BPK menilai penanganan banjir di Jakarta tidak memiliki perencanaan yang jelas.

Catatan keras kepada Pemprov DKI Jakarta pimpinan Anies Baswedan ini disampaikan BPK dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II Tahun 2020. BPK juga menjelaskan penanganan banjir di Jakarta cenderung reaktif.

Pengendalian banjir yang dipimpin Anies pun disebut tidak terarah dan tidak efektif dalam mengurangi dan menekan potensi banjir dan genangan di Jakarta.

"Penanganan banjir di DKI Jakarta masih cenderung reaktif dan belum mengacu pada perencanaan yang jelas," ungkap BPK dalam Laporan IHPS II 2020 dikutip detikcom, Rabu (23/6/2021).

BPK melaporkan, dalam mengendalikan banjir, Pemprov DKI Jakarta sebetulnya telah melakukan berbagai upaya, seperti membangun sodetan ke kanal banjir, normalisasi sungai, pemeliharaan sungai, antisipasi air pasang dengan pembuatan tanggul, penataan kali serta saluran, dan lain sebagainya.

Bahkan pengendalian banjir yang dipimpin Anies Baswedan ini juga sudah memasukkan berbagai kegiatan tersebut ke dalam Kegiatan Strategis Daerah lewat Instruksi Gubernur Nomor 52 Tahun 2020 tentang Percepatan Peningkatan Sistem Pengendalian Banjir.

Sayangnya, semua upaya yang dilakukan dalam menanggulangi banjir di Jakarta itu masih banyak bermasalah. Terutama dalam pengendalian aliran sungai yang bisa menyebabkan banjir di Jakarta.

"Pengendalian banjir di Jakarta melalui konsep pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara terpadu belum didukung kelembagaan yang memadai, dan mengakibatkan kerusakan DAS Ciliwung belum dapat ditangani secara optimal," tulis BPK.

Di sisi lain, Pemprov DKI Jakarta belum melakukan review dan pemutakhiran data sungai dan sistem drainase perkotaan dalam mendukung pengendalian banjir. Hal ini menyebabkan sistem informasi pengendalian banjir belum dapat digunakan untuk simulasi model pengendalian banjir.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Lihat juga Video: Perbaikan Turap Jebol di Ciputat, Difokuskan Pembuatan Kanal Air

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2