Amit-amit RI Jangan Sampe! 5 Negara Ini Berdarah-darah Gegara Utang

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 27 Jun 2021 14:58 WIB
Petugas menyusun uang di Cash Center Bank BNI di Jakarta, Jumat (17/6/2016). Bank BUMN tersebut menyiapkan lebih dari 16.200 Anjungan Tunai Mandiri (ATM) untuk melayani kebutuhan uang tunai saat lebaran. BNI memastikan memenuhi seluruh kebutuhan uang tunai yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp 62 triliun atau naik 8% dari realisasi tahun sebelumnya. (Foto: Rachman Harryanto/detikcom)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Utang Indonesia kembali menjadi sorotan belakangan ini. Berawal dari pernyataan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang mewanti-wanti kemampuan pemerintah membayar utang.

Per April 2021 saja Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat utang pemerintah telah mencapai Rp 6.527,29 triliun atau 41,18% terhadap PDB. Ke depannya kemampuan pemerintah untuk membayar utang dikhawatirkan semakin menurun.

Dengan kekhawatiran itu, jangan sampai deh Indonesia seperti negara lain yang terlilit utang hingga akhirnya bangkrut; seperti perusahaan yang tak bisa membayar utangnya.

Ditulis detikcom, Minggu (27/6/2021), berikut 5 negara yang pernah terlilit utang dan bangkrut:

1. Yunani
Pada 30 Juni 2015 Yunani dinyatakan bangkrut. Penyebabnya karena gagal membayar utang yang totalnya mencapai 360 miliar euro (Rp 5.000 triliun). Rasio utang pemerintah Yunani terhadap PDB mencapai 155,3% pada Mei 2015.

Utang Yunani yang menggunung mulai dikumpulkan sejak bergabung dengan Uni Eropa pada awal 2000-an. Padahal, Yunani bukanlah negara besar, karena jumlah penduduknya hanya sekitar 11 juta orang, ini bahkan lebih rendah dari penduduk di Jawa Barat yang mencapai sekitar 46 juta orang. Sekitar 16% perekonomian Yunani bergantung pada sektor pariwisata.

Saking banyaknya utang Yunani, para investor menghentikan pembelian surat utang yang diterbitkan pemerintah negeri para dewa ini.

2. Argentina
Negeri Tango ini setidaknya sudah dua kali mengalami gagal bayar utang (default) yakni pada 2001 dan 2014. Di 2014 para kreditur menolak penawaran negosiasi pembayaran utang pemerintah Argentina.

Pihak lembaga pemeringkat utang, Standard & Poor's (S&P) saat itu langsung memposisikan Argentina dalam status 'Selective default'. Jumlah utang yang masih harus dibayar Argentina kepada para kreditur sebesar lebih dari US$ 1,3 miliar.

Argentina seharusnya melakukan cicilan pembayaran US$ 539 juta terhadap obligasi yang direstrukturisasi pada 30 Juni 2014.

Argentina juga menyatakan gagal bayar utang sebesar US$ 100 miliar pada 2001 dan harus menjalani program restrukturisasi. Konsekuensinya, nilai obligasi yang diterbitkan Argentina berkurang 70% dari nilai sesungguhnya.

Hampir 92% dari para pemegang surat utang negara itu bersedia nilai piutang mereka berkurang. Namun kreditur dari Capital dan Aurelius Capital Management tetap menuntut Argentina membayar utangnya 100% sebesar US$ 1,3 miliar ditambah bunga.

Tahun lalu di 2020, Argentina juga memiliki masalah terkait utang. Namun kali ini Argentina mencapai kesepakatan dengan kreditur utamanya untuk melakukan restrukturisasi alias keringanan untuk membayar utang negara sebesar US$ 65 miliar atau sekitar Rp 942,5 triliun (dalam kurs Rp 14.500).