Ada Keluarga Rusdi Kirana di Balik Kepakan Sayap Super Air Jet?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 28 Jun 2021 21:00 WIB
Super Air Jet resmi mendarat di Indonesia. Maskapai ini merupakan penerbangan swasta yang menargetkan kalangan milenial.
Foto: Super Air Jet

Pengamat penerbangan dari Arista Indonesia Aviation Center (AIAC) Arista Atmadjati mengatakan kemungkinan Super Air Jet tidak akan meraih keuntungan signifikan beberapa tahun ke depan.

Namun, hal ini menurutnya wajar, dia menilai sebuah maskapai baru bisa sukses dan mendulang keuntungan setelah 3-4 tahun beroperasi. Keuntungan didapatkan usai bisnis maskapai tersebut stabil.

"Untuk maskapai baru memang nggak langsung untung. Perhitungan saya baru tiga atau empat tahun untung, tiga tahun paling cepat," kata Arista kepada detikcom.

Selama tiga tahun ini Arista menilai Super Air Jet kemungkinan akan terus merugi. Namun, kerugian itu akan terbayar lunas, karena tiga atau empat tahun lagi lonjakan bisnis penerbangan akan terjadi usai pandemi COVID-19 kemungkinan mereda. Lonjakan penumpang akan terjadi, Super Air Jet pun akan langsung memperoleh keuntungan.

"Kasarnya kalau tiga tahun berjalan mungkin mereka rugi. Tapi lepas tiga tahun saat COVID-19 selesai, maka anggapannya penumpang pun recover, jadi mereka bisa keruk keuntungan di situ," ungkap Arista.

Arista menilai kerugian yang dialami Super Air Jet selama 3 tahun ke depan tidak akan sebanding dengan beban kerugian para maskapai lain yang sudah hadir duluan dan mengalami goncangan ketika pandemi. Jadi, Super Air Jet bisa lebih enteng mengepakkan sayapnya di masa normal.

Menurutnya yang harus dilakukan Super Air Jet agar bisa bertahan adalah kuat-kuat mengeluarkan modal untuk investasi. Investor harus siap memberikan sumber dayanya untuk menopang Super Air Jet dalam jangka waktu pendek hingga menengah.

"Ini tinggal bagaimana dia siap bakar duit aja selama waktu itu, tinggal lihat kuat-kuatan investasinya saja dalam jangka pendek dan menengah," kata Arista.

Dilihat secara bisnis, menurut Arista, Super Air Jet justru memperoleh keuntungan dengan membangun perusahaan dari awal pada waktu seperti ini. Pasalnya, di tengah kondisi krisis akibat pandemi banyak komponen biaya maskapai sedang anjlok harganya.

"Banyak overhead dan variabel cost itu turun. Maka dia terjun ke sini. Super Air Jet hanya memanfaatkan momentum sekarang," ungkap Arista.

Misalnya saja biaya sewa atau leasing pesawat, menurutnya saat ini banyak penyewa yang menawarkan pesawat dengan harga murah. Dia mengatakan biaya leasing menjadi salah satu komponen besar bagi maskapai, jumlahnya mencapai 25% dari total biaya. Dengan begitu, Super Air Jet bisa memanfaatkan kondisi ini untuk menguatkan jumlah pesawatnya.

Arista juga memaparkan gaji pilot dan pramugari saat ini juga kemungkinan akan lebih murah dibandingkan dengan dua atau tiga tahun lalu. Otomatis Super Air Jet bisa lebih menekan biaya untuk pengadaan sumber daya manusianya. Bahkan untuk biaya sewa gedung sebagai unit kantor pun akan lebih murah di tengah pandemi seperti ini.

"Jadi ya biaya mereka murah semua menurut saya sekarang," kata Arista.


(hal/zlf)