Dorong Ekspor, Kementan Siapkan Aplikasi untuk Pengusaha dan Petani

Moch Prima Fauzi - detikFinance
Kamis, 01 Jul 2021 10:04 WIB
Kementan
Foto: dok. Kementan
Jakarta -

Untuk mendorong peningkatan kinerja ekspor pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menyiapkan aplikasi peta potensi komoditas ekspor pertanian yang disebut IMACE (Indonesia Maps of Agricultural Commodities Export). Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan aplikasi ini mempertemukan para pelaku usaha agribisnis dengan para petani di wilayah sentra komoditas unggulan.

Hal itu diungkapkan Syahrul kepada tim independen penguji kompetisi inovasi pelayanan public, SINOVIK, Rabu (30/6) dari Ruang AWR, Kementerian Pertanian, Jakarta.

Mentan secara langsung mempresentasikan sekaligus melakukan wawancara di hadapan tim yang diketuai Prof. JB Kristiadi, Pakar Telematika.

"Berbagai kemajuan digital menjadi peluang bagi hadirnya modernisasi aktivitas termasuk di sektor pertanian, dan kemajuan era ini harus kita manfaatkan," kata Syahrul dalam keterangan tertulis, Kamis (1/7/2021).

Menurut Syharul jajarannya mendorong IMACE menjadi bagian penting, strategis dan akseleratif untuk menghadirkan Indonesia dengan pertanian yang semakin maju, mandiri dan modern. Ia mengatakan pertanian sebagai potensi bangsa harus memiliki langkah yang jelas dan sistematis. Pemanfaatan digital media pun dinilai dapat dilakuan agar informasi dan data pertanian dapat lebih mudah dan cepat untuk diakses.

Sebagai informasi, IMACE merupakan aplikasi digital yang dikembangkan oleh Badan Karantina Pertanian (Barantan) dan lolos menjadi salah satu 99 Top Inovasi dari Sinovik Tahun 2021 yang digelar Kementerian Pemberdayaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpanrb) dan maju pada tahap berikutnya.

IMACE menyajikan informasi data ekspor pertanian secara komputasi waktu nyata atau real-time. Selain itu, aplikasi ini juga menyajikan data pemetaan potensi komoditas pertanian ekspor di daerah sentra dan menjadi input dalam pemberdayaan masyarakat. Untuk memudahkan penggunaannya, IMACE hadir dalam dua platform yang berbasis situs web dan berbasis aplikasi Android.

Pada awal pengembangannya, aplikasi ini ditujukan untuk mendukung Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor Pertanian (GRATIEKS) yakni program yang digagas Syahrul Yasin Limpo guna meningkatkan kinerja ekspor pertanian. Dalam kurun waktu lebih dari satu tahun, aplikasi yang telah digunakan di 9 Provinsi ini dapat mendorong performa kinerja ekspor.

Bedasarkan data rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2020 peningkatan ekspor pertanian tercatat sebesar 15,2% dibandingkan kinerja tahun sebelumnya. Barantan juga mencatat adanya penambahan 1.300 eksportir baru serta 98 komoditas ekspor pertanian baru atau emerging product sebagai signifikasi dampak terbukanya akses informasi ekspor.

Nurjaman Moctar, salah satu tim independen menyampaikan era 5G akan memberi dampak pada perdagangan termasuk produk pertanian secara online. Untuk itu IMACE dinilai tepat dalam mengambil momentum tersebut.

"Selain itu, Kementan juga harus segera membangun ekosistem berdasarkan blockhain yang dikelola oleh Kementan," ujarnya.

Sementara, tim independen lain, Rudiarto Sumarwono yang juga Komisioner Aparatur Sipil Negara menyebutkan aplikasi IMACE harusnya dapat menjadi gerakan nasional.

"Ekosistem ini perlu kebijakan antar lintas entitas, sehingga harus didorong bersama, jadikan gerakan nasional," kata Rudi.

Tim penilai memberi masukan agar ke depannya Kementan dapat membentuk tim kajian agar IMACE dapat mendorong kepentingan yang lebih besar.

Kepala Barantan, Bambang yang turut mendampingi Syahrul Yasin Limpo menyampaikan pengembangan IMACE bukan semata-mata untuk memenangkan kompetisi Sinovik, namun pihaknya sangat terbuka dengan masukan.

"Arahan dan masukan Pak Mentan dan tim independen akan kami jadikan acuan dalam pengembangan IMACE ke depan," pungkas Bambang.

Simak juga video 'Jokowi Bicara Kunci Pemulihan Ekonomi: Covid Hilang Dari Bumi Pertiwi':

[Gambas:Video 20detik]



(prf/ara)